Tuhan Dalam Sistem Pendidikan Islam

07.34









Membicarakan konsep ketuhanan sebagai pijakan pengembangan sistem pendidikan Islam tidaklah bermaksud mencari pemahaman tentang Tuhan dalam kerangka ontologis dan epistemologis. Yang ingin dikaji adalah menyangkut berbagai nilai, isyarat, dan petunjuk yang memiliki relevansi luas dan strategis dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam.
Membicarakan konsep ketuhanan tidak terlepas dari pemahaman tentang adanya (wujud) Allah, sifat-sifat-Nya, Asma-asma-Nya, dan tauhid sebagai sistem teologi Islam. Al-Quran memerintahkan kita untuk merenungkan dan memahami  segala ciptaan-Nya sehingga akhirnya bisa memahami eksistensi Tuhan. Tuhan tidak lagi diyakini sebagai sesuatu yang irrasional, tetapi brubah menj adi keyakinan yang hakiki. Menurut al-Quran, eksistensi Tuhan benar-benar fingsional; Dia adalah Pencipta serta Pemelihara alam dan manusia, terutama sekali Dia memberi petunjuk kepada manusia dan kelak akan mengadili manusia secara individual maupun kolektif. Sifat-sifat Tuhan seperti Pencipta, Pemelihara, Pemberi Petunjuk, Keadilan dan Belas-Kasih saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan organis dalam konsep manusia tentang Tuhan.
Tentang Asma al-Husna sebagai cerminan nama-nama Tuhan terdapat nila-nilai yang luar biasa luas dan dalam. Nama-nama seperti al-Rahman dan al­-Rahim (Pengasih dan Penyayang), al-Ilm (Ilmu), al-Hikm wa al-`Adl (Maha Bijaksana dan Adil), al-Haq (Maha Benar), al-`Aziz (Maha Mulia), dan lain-lain yang semuanya berjumlah 99 nama, dapat dijadikan sebagai sumber nilai yang berharga bagi kehidupan manusia, khususnya bagi pendidikan Islam. Menurut Hasan Langgulung, Kalau nama-nama dan sifat-sifat Tuhan yang 99 tersebut diaktualisasikan pada diri manusia niscaya merupakan potensi yang tak terkira banyaknya, dan kalau sifat-sifat itu diambil satu persatu dan dikombinasikan, maka akan menjadi potensi yang jutaan jumlahnya. Misalnya, Allah bersifat al-­Quddus (Maha Suci) maka untuk mengembangkan kesucian diperlukan ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji al-Rahman (Maha Pengasih), Allah memerintahkan manusia bersifat kasih sayang dalam kehidupannya. Al-`Alim ilmu bagi kehidupannya, dan bergitulah seterusnya. Dari sini tergambar bagaimana kompleksnya potensi yang dimiliki manusia yang dapat mengembangkan sumber daya manusia, sekaligus dapat berniali dalam rangka mengembangkan sumber daya alam suatu masyarakat, bangsa dan negara. Potensi-potensi yang begitu banyak hanya bisa diaktualisasikan melalui pendidikan.
Kemudian, tauhid sebagai sistem teologi dalam Islam merupakan suatu pandangan hidup yang menegaskan adanya proses kesatuan dan kemanunggalan dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan. Semua yang ada bersumber hanya pada Yang Satu Tuhan saja, yang menjadi asas kesatuan ciptaan-Nya dalam berbagai bentuk, jenis, dan bidang kehidupan. Dalam konteks teologi, tauhid adalah pernyataan iman kepada Tuhan Yang Tunggal dalam satu sistem. Karena, pernyataan iman seseorang kepada Tuhan bukan hanya pengakuan lisan, pikiran dan hati (kalbu), melainkan juga tindakan dan aktualisasinya yang mesti diwujudkan dan tercermin dalam berbagai bidang kehidupan baik itu sosial, ekonomi, pendidikan, politik, maupun kebudayaan. Dengan demikian, teologi Islam adalah teologi yang integratif, teologi aktual, dan teologi transformatif. Teologi integratif memandang hakikat Tuhan Yang Tunggal akan berpengaruh dengan kesatuan sikap dalam hidup. Teologi aktual yaitu iman tidak berhenti pada dataran lisan, pikiran, dan hati melainkan teraktualisasi dalam hidup, tindakan, dan perbuatan. Teologi transformatif karena akan membina dan mengubah manusia ke arah akhlak al-karimah dan kehidupan yang ideal sesuai dengan nilai dan fitrah kemanusiaan.
Dalam konteks pendidikan, menurut Azyumardi Azra, sebagaimana disitir oleh Abd. Rahman Abdullah, bahwa konsep pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang menjadikan tauhid sebagai paradigmanya, tauhid pradigm . Dalam artian tidak hanya mengesakan Tuhan, tetapi mengintegrasikan seluruh aspek, seluruh pandangan dan aspek kehidupan manusia.  Oleh karena itu, jika seseorang melakukan pengamatan dan penelitian terhadap gejala alam dan sosial kemanusiaan, misalnya, maka yang dihasilkan tidak hanya pengetahuan yang bersifat kognitif belaka, juga tidak hanya bersifat aplikatif dan penggunaan praktis semata (berwujud kemampuan teknologis atau teknokratis untuk mempermudah hidup lahiriah dan material manusia), tetapi juga membawanya kepada keinsafan ketuhanan yang lebih mendalam, melalui penghayatan keagungan dan kebesaran Tuhan sebagaimana. tercermin dalam seluruh ciptaan-Nya.
Dengan demikian, konsep dasar ketuhanan dalam Islam mempunyai kedudukan yang amat strategis bagi pengembangan konsep dan pemikiran kependidikan Islam. Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam tidak boleh lepas dari konsep ketuhanan, teosentris, sekaligus mencakup kemanusiaan dan kealaman.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook