Teknik VCT (Value Clarification Tehnique) Model Cerita
19.39
A.
Macam-Macam
Model Pengajaran
Hamzah B. Uno mengemukakan beberapa model
yang termasuk ke dalam pendekatan pembelajaran informasi diantaranya:
a. Model
perolehan konsep, tokohnya adalah Jerome Brunner
b. Model
berfikir induktif, tokohnya adalah Hilda Taba
c. Model
inquiry training tokohnya adalah
Richard Suchman
d. Model
scientific inquiry, tokohnya adalah
Joseph J. Schwab
e. Model
penumbuhan kognitif, tokohnya adalah Piagiet, Freud, Irving Siel, dan Kohlberg
f. Model
advance organizer, tokohnya adalah
David Ausubel.
g. Model
memory, tokohnya antara lain Harry Lorayne dan Jerry Lucas.[1]
Berdasarkan pendapat di atas terlihat
begitu banyak model-model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli
pendidikan. Setiap model-model tersebut memiliki karakteristik yang
berbeda-beda satu sama lainnya, dan tentunya memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing pula.
B.
Pengertian Teknik VCT
Menurut Wina Sanjaya
menyatakan bahwa:
Tehnik mengklarifikasi
nilai (Value Clarification Technique)
atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai tehnik pengajaran untuk
membantu murid dalam mencari dan
menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan
melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri murid .[2]
|
Sedangkan menurut Bernade Materray
mengemukakan bahwa teknik VCT dalam istilah sehari-hari dengan pengungkapan
nilai-nilai moral pada peserta didik. Djahiri dalam Bernade Materray berpendapat
bahwa melalui teknik VCT peserta didik dibina kesadaran emosional nilainya
melalui cara yang kritis, pengklarifikasian dan menguji kebenaran, kebaikan,
keadilan, kelayakan dan ketepatannya.[3]
Hal senada yang dinyatakan oleh Wahab
dalam Bernade Materray, menyatakan bahwa:
Teknik pengungkapan
nilai (VCT) membantu mengungkapkan moral yang dimiliki murid tentang hal-hal tertentu. Pendekatannya
membantu murid menemukan dan
menilai/menguji nilai-nilai yang mereka miliki untuk mencapai perasaan diri
yang lebih bermakna dan mantap. Pertimbangan adalah faktor kunci dari model VCT
disenangi atau tidak disenangi. Semua nilai termasuk moral dipandang sebagai
personal dan relatif. Klarifikasi nilai tidak menetapkan adanya hierarchi
standar moral, fokusnya adalah membantu murid berkenalan dengan nilai-nilai yang
dimilikinya seperti nilai tatkrama,
baik/buruk, halal/haram, dosa/tidak dosa dalam kehidupan sehari-hari
menghormati orang tua, guru dan lainnya.[4]
Berdasarkan beberapa pengertian sebelumnya,
dapat disimpulkan bahwa sebagai model mengajar, maka VCT diartikan sebagai
teknik pengajaran untuk menanamkan dan menggali/mengungkapkan nilai-nilai
tertentu pada diri murid . Nilai adalah keyakinan, kepercayaan, norma, aturan
atau suatu kepatutan keharusan yang dianut seseorang maupun kelompok masyarakat
tentang sesuatu.
Seringkali dalam pengungkapan banyak
tulisan antara akhlak , etika dan moral tidak dibedakan. Bahkan cenderung
menyamakan maksud antara ketiganya. Akan tetapi sebenarnya, pada dasarnya
ketiga istilah tersebut memiliki perbedaan yaitu akhlak tolak ukurnya adalah
Al-Qur’an dan As-Sunnah, etika tolak ukurnya adalah pikiran/akal, moral tolak
ukurnya adalah norma yang hidup dalam masyarakat.[5]
Perbedaan antara akhlak, moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan
atau standar ukuran yang baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan
buruk akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika
berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh masyarakat.[6]
Dengan demikian standar nilai moral dan
etika bersifat lokal dan temporal,
sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi.[7]
C.
Model-model VCT
Bernade Materray mengemukakan beberapa
model-model VCT antara lain:
a. VCT
dengan model percontohan/model cerita
Guru
dapat menyusun cerita yang kiranya dapat membawa murid untuk menarik pelajaran dari contoh-contoh
yang diungkapkan melalui pokok bahasan yang disesuaikan dengan tingkat
perkembangan murid , yang cocok dengan lingkungan kehidupan/bermain mereka.
Dalam mengawali pelajaran guru menyampaikan cerita yang diikuti dengan beberapa
pertanyaan.
b. VCT
dengan model analisa tulisan
Teknik
ini dapat digunakan untuk kelas tiga di mana murid telah bisa membaca, menalar dan juga
membandingkan. Model analisa dapat dilakukan dengan (a). Analisa reportase/liputan
(b). Analisa secara seksema/akurat (c). Analisa Tulisan (d). Analisa certa
tidak selesai.
1) Analisa Liputan
Guru
menetapkan target nilai sesuai dengan
dengan pokok bahasan, membagikan atau tempel gambar dipapan tulis yang
kira-kira memuat nilai yang hendak di capai dalam mengerjakan pokok bahasan
tertentu. Lihat reaksi murid , namun jangan diberi komentar terlebih dahulu.
Biarkan mereka saling berdialog. Identifikasi liputan murid baik individu maupun kelompok tanpa meminta
alasan semua. Guru mengomentari dan mengungkapkan secara jelas termasuk
argumentasi sambil mengarahkan pada konsep/materi/nilai pelajaran. Kemudian
menyusun kesimpulan oleh murid atau
kelompok bersama guru atau langsung oleh guru dengan mengarahkannya terhadap
materi pelajaran/target nilai.
2) Analisa Secara
Seksama/akurat
Dengan media
stimulus di papan tulis, murid secara
individu atau kelompok diminta melakukan kajian terhadap media, untuk meneliti
secara detil memperbandingkan dengan hal yang sama yang diketahui murid , membuat
telaahan yang didasarkan atas argumen/pendapat murid serta mengambil kesimpulan.
3) Analisa tulisan
Dalam
analisis tulisan guru memilih tulisan yang bermuatan nilai sesuai dengan pokok
bahasan yang diajarkan. Guru meminta murid memberi tanda pada kalimat, kata-kata atau
ungkapan yang dianggap baik atau buruk. Tanda dapat berupa garis bawah atau
garis merah. Murid juga dapat diminta
membuat tulisan tentang suatu artikel atau guntingan koran yang diambil dari
majalah atau koran baik oleh guru maupun oleh murid .
4) Analisis cerita tidak
selesai
Guru
menyiapkan suatu cerita sesuai dengan pokok bahasan, ceritanya belum selesai
kemudian setelah murid membaca cerita
tersebut, murid disuruh menyelesaikan
menurut pikirannya msing-masing. Beberapa murid disuruh membacakannya, kemudian guru
meluruskan cerita tersebut sesuai dengan pokok bahasan diberikan.
c.
VCT
dengan model daftar atau matriks seperti :
Dengan baik
buruk, tingkat urutan, gejala kontinue, membaca fikiran orang lain. Guru
menyiapkan bahan daftar berupa contoh prilaku yang menggambarkan nilai atau
prilaku tertentu yang memuat nilai atau prilaku dalam pokok bahasan yang akan
diajarkan. Kemudian guru dan murid mendiskusikan mengapa mereka menilai contoh
prilaku itu baik atau buruk serta alasan penilaian mereka dan dilanjutkan
pengamatan oleh guru.
d.
VCT
dengan model simulasi atau bermain/bermain peran/games.
Sebaiknya
guru menyiapkan skenario pelaksanaan untuk dijelaskan kepada kelas atau
kelompok, pemain untuk dipahami dan dilaksanakan. Materinya berisi target nilai
atau prilaku yang akan diajarkan. Melalui bermain peran murid dapat mengamati dan merasakan atau menirukan prilaku
yang muncul atau ditampilkan dalam peran tersebut yang disesuaikan dengan
tingkat perkembangan dan kemampuan murid . Dengan bermain peran murid mengalami sendiri suatu keadaan yang sengaja
diciptakan (buatan) murid juga diajak
unuk berimajinasi tentang apa yang diperankannya termasuk dialog dengan dirinya
sendiri .[8]
D. VCT (Value
Clarification Technique) dengan model cerita
Tehnik mengklarifikasi nilai (Value Clarification Technique) atau
sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai tehnik pengajaran untuk membantu murid
dalam mencari dan menentukan suatu nilai
yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis
nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri murid .
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya
bahwa tekhnik VCT dengan model cerita dilakukan dengan usaha guru menyusun
cerita yang kiranya dapat membawa murid untuk menarik pelajaran dari contoh-contoh
yang diungkapkan melalui pokok bahasan yang disesuaikan dengan tingkat
perkembangan murid, yang cocok dengan lingkungan kehidupan/bermain mereka.
Dalam mengawali pelajaran guru
menyampaikan cerita yang dikuti dengan beberapa pertanyaan.
Contoh dari cerita yang akan dibacakan
oleh guru yaitu:
Akibat
Kelalaian Hindun
Sesudah shalat Isya Pak Syafi’i bersama
istrinya pergi ke acara kondangan pengantin di desa tetangga. Fatma menjaga
rumah bersama adiknya, Hindun. Fatma menyelesaikan tugas dari guru, sedangkan
Hindun sedang menonton televisi.
Berkali-kali Fatma mengingatkan Hindun
untuk segera belajar, atau setidaknya menyiapkan alat tulis untuk besok pagi.
Namun, Hindun hanya menjawab, “Nanti dulu, Kak, acaranya masih bagus.”
Dua jam telah lewat. Setelah
menyelesaikan tugasnya, Fatma segera memasukkan peralatan sekolah ke tempat semula,
sedangkan Hindun tertidur dikursi. Fatma mencoba membangunkan adiknya.
“Kamu belum belajar, ya?” Tanya Fatma.
“Ngantuk, kak, besok pagi saja.” Jawab
Hindun setengah bangun.
Malam hari Pak Syafi’i pulang dan
melihat Hindun tidur di kursi, lalu segera memindahkannya ke tempat tidur.
“Sudah belajar, Fatma?”, tanya Pak
Syafi’i. “Sudah, Yah, tetapi Hindun belum. Berkali-kali Fatma ingatkan tetapi
tetap ia tidak mau, katanya besok pagi saja.”
“Ya, sudah. Mari kita
tidur, agar besok bisa bangun pagi-pagi.” Kata Pak Syafi’i.
Sebelum subuh keluarga Pak Syafi’i sudah
bangun, kecuali Hindun. Berkali-kali ibunya membangunkan, tetapi belum juga mau
bangun, alasanya masih mengantuk. Sesudah shalat subuh Pak Syafi’i membangunkan
Hindun. Masih setengah mengantuk Hindun bangun dan segera bergegas shalat
subuh.
Sesudah shalat, Hindun kebingungan. Ia
belum menyiapkan pelajaran hari ini, belum mengerjakan tugas sekolah, dan belum
belajar, padahal hari ini ada ulangan. Ketiganya tidak mungkin dikerjakan dalam
satu waktu. Peralatan sekolah sudah ia siapkan. Ia segera mengerjakan tugas
sekolah, tetapi ia lupa mencatat tugas kemarin. Mau pinjam catatan Sheba,
rasanya tidak enak, hari masih pagi, tentu keluarga semua juga sibuk, pikirnya.
Ia memutuskan untuk belajar saja.
Hindun berangkat lebih pagi dari
biasanya. Ia berharap bisa menemui temannya untuk meminjam catatan dan tugas.
Tetapi kebanyakan temannya datang lima belas menit sebelum jam masuk. Meskipun
dengan sungguh-sungguh dan cepat, tetapi tugas sekolah tetap tidak dapat ia
selesaikan.
Pak Ahmad memeriksa tugas murid kelas
tiga. Hindun mendapat nilai dua, ia termasuk urutan terbawah. Saat diadakan
ulangan, Hindun hanya mendapat nilai empat. Sekarang ia menyesal. Tetapi
penyesalannya sudah terlambat.
Begitulah Hindun, karena melalaikan
tugas sekolah maka ia dimarahi guru dan mendapat nilai jelek. Karena malas
belajar, maka ia tidak mampu menyelesaikan ulangan dengan baik.
Wina Sanjaya menjelaskan bahwa:
Salah satu
karakteristik VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah
proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada
sebelumnya dalam diri murid kemudian
menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru hendak ditanamkan. VCT sebagai suatu
model dalam strategi pembelajaran moral VCT bertujuan :
a. Untuk
mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran murid tentang suatu nilai.
b. Membina
kesadaran (menyadarkan murid tentang
nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya (positif atau
negatif).
c. Sebagai
tehnik pengajaran untuk menanamkan suatu nilai kepada murid melalui cara yang rasional dan diterima murid sebagai milik pribadinya.
d. Melatih
dan membina murid tentang bagaimana cara
menilai, menerima serta mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk
kemudian dilaksanakannya sebagai warga
masyarakat.[9]
Hal senada dikemukakan oleh Adnan dalam
Bernada Meterray menyatakan kegunaan pengajaran VCT ialah antara lain:
a. Membantu
kemudahan proses klarifikasi (kejelasan) nilai, moral dan norma yang harus
dikaji dan diserap peserta didk, sosok diri yang bersangkutan.
b. Memudahkan
dan meningkatkan keberhasilan proses internalisasi dan personalisasi
nilai-moral-norma yang disampaikan/diharapkan.
c. Memantapkan
dan memperluas hasil belajar peserta didik.
d. Meningkatkan
kadar CBSA dan mengajar guru secara lebih manusiawi, penuh gairah dan
menyenangkan.
e. Meningkatkan
kepaduan proses kognitif dengan afektif dan psikomotorik
f. Meningkatkan
kepaduan antara dunia persekolahan/ilmu pengetahuan dengan dunia kehidupan
nyata.[10]
Dari uraian sebelumnya, jelaslah kiranya
bahwa pengungkapan nilai-nilai atau sikap dari seseorang seyogyanya dilakukan
sebelum kita menanamkan nilai/sikap baru pada orang tersebut. Sebab dengan ini
kita akan mengetahui keadaaan yang bersangkutan, serta jenis hambatan atau
tanggapan orang tersebut tentang nilai yang akan kita tanamkan. Gambaran ini
akan sangat menentukan pilihan strategi belajar mengajar yang harus kita
pergunakan. Bukankah kita sadari bahwa keadaan serta pribadi diri murid perlu mendapatkan pertimbangan mendalam
sebelum sesuatu kita rencanakan serta laksanakan. Kesalahan umum dalam
pengajaran nilai/sikap/moral yang kita lakukan, umumnya justru tidak pernah
mengetahui dengan pasti jenis serta tingkat keadaan nilai/sikap yang ada dalam
diri murid dengan yang baru diajarkan
terdapat ketidak cocokkan atau mungkin bertentangan. Sehingga terjadilah
pribadi yang kacau (frustasi,bingung), konflik atau pura-pura.
Ruth dalam Eva Musnelly, salah satu tokoh
VCT mengemukakan langkah belajar/mengajar suatu nilai yang memperpadukan faktor
pribadi diri murid dengan apa yang baru
atau kenyataan. Beliau mengungkapkan perlunya keadaan-keadaan serta kegiatan
belajar sebagai berikut:
a.
Kebebasan
memilih pada diri murid
b.
Membina
kebanggaan
c.
Melaksanakan[11]
Dari uraian sebelumnya, secara sederhana
dapat kita simpulkan bahwa pengajaran moral/nilai/sikap seyogyanya membuka
iklim dan kegiatan sebagai-berikut:
a.
Timbulkan
suasana kebebasan memilih pada murid , baik memilih masalah, memilih alternatif
pemecahan masalah dan penilaiannya maupun dalam menentukan sebab dan alasan
pertimbangannya. Guru pada langkah ini berperan sebgai penyodor permasalahan
secara lengkap, juga bila perlu menyodorkan alternatif pemecahan atau penilaian
sebagai pengarahan atau mengajukan pertanyaan koreksi yang akan dijawab murid itu sendiri.
b.
Menciptakan
rasa bangga/harga diri dengan apa yang ada atau dimiliki dalam dirinya serta
apa yang menjadi pilihannya.
c.
Menciptakan
kesempatan untuk mencoba dan mengerjakannya. Peran guru disini sebagai
pendorong dan pembina atau pemberi fasilitas.
E.
Keunggulan Dan Kelemahan Model VCT
Musnelly Eva menyatakan bahwa:
VCT sangat
bermanfaat untuk pengajaran moral dan pengajaran yang menitikberatkan kepada
tujuan perubahan sikap (attitude). Sebagaimana kita ketahui bahwa sampai
sekarang orang masih berdebat dan belum tahu pasti apakah sikap dan moral itu
dapat diajarkan oleh guru. Leonard Kenworthy mengetengahkan rumus P
(pengetahuan) + S (sikap) + K (keterampilan) = B (behavior/kelakuan). Hal ini
menggambarkan bahwa sikap lahir secara berbarengan. Melalui teknik dan langkah
tertentu dicoba ditanamkan kepada murid melalui penimbulan kesadaran nilai murid itu sendiri serta melalui cara-cara yang kritis
rasional dengan menggunakan langkah dan proses belajar yang sewajarnya. Jadi
peranan sikap/nilai ini tidak secara melompati langkah dan proses belajar
tersebut melainkan ditanamkan secara bertahap.[12]
Kelemahan yang sering terjadi dalam proses
pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran dilakukan secara
langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik
tanpa memperhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri murid . Akibatnya,
sering terjadi benturan atau konflik dalam diri murid karena ketidakcocokan antara nilai lama yang
sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Murid sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan
nilai lama dan nilai baru.
F.
Langkah-Langkah KBM VCT Dengan Percontohan/Model Cerita
Bernada Meterray mengatakan VCT dengan
Model Cerita dapat dilakukan dengan mencari/membuat stimulus berupa contoh
keadaan/perbuatan yang memuat nilai, norma sesuai dengan topik atau target
nilai pelajaran. Dirakit dalam bentuk cerita yang dapat menyeret perasaan
kejiwaan anak dan menyentuh hati nuraninya. Langkah-langkah KBM VCT dengan
percontohan/cerita termasuk dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor,
tetapi VCT ini lebih menekankan di aspek kognitif langkah-langkah tersebut
adalah :
a. Menyampaikan
stimulus cerita melalui pembacaan cerita oleh guru atau murid .
b. Berikan
kesempatan beberapa menit untuk anak berdialog sendiri atau sesama teman.
c. Melaksanakan
dialog terpimpin oleh guru melalui pertanyaan yang sudah disiapkan (secara
individual, kelompok,klasikal) seperti : pertanyaan tentang kesan emosi siwa,
masalahnya, pelaku dan ketidaklayakan/kelayakan pelaku, pertanyaan
personifikasi.
d. Menentukan
argumen dan klasifikasi pendidikan (juga melalui pertanyaan guru secara
individu, kelompok, klasikal)
e. Pembahasan
(guru menanamkan jarum nilai, pelajaran, kosep sesuai dengan materi)
f.
Penyimpulan dilakukan
oleh guru atau bersama murid dan mengalihkan
tanggapan murid pada materi lain.[13]
John Jarolimek dalam Wina Sanjaya menjelaskan
langkah pembelajaran VCT dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat. Setiap
tahapan dijelaskan dibawah ini.
a. Kebebasan
memilih. Pada tahap ini terdapat 3 tahap, yaitu:
1) Memilih
secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik.
Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh.
2) Memilih
dari beberapa alternatif. Artinya, untuk menentukan pilihan dari beberapa
alternatif pilihan secara bebas.
3) Memilih
setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai
akibat pilihannya.
b. Menghargai.
Terdiri atas dua tahap pembelajaran yaitu :
1) Adanya
perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai
tersebut akan menjadi bagian integral dari dirinya.
2) Menegaskan
nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya,
bila kita menganggap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan
penuh kesadaran untuk menunjukkannya di depan orang lain.
c. Berbuat.
Terdiri atas :
1) Kemampuan
dan kemauan untuk mencoba melaksanakannnya.
2) Mengulangi
perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan
itu harus tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.[14]
VCT menekankan bagaimana sebenarnya
seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, yang pada gilirannya
nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat. Dalam praktek pembelajaran, VCT dikembangkan melalui proses dialog
antara guru dan murid . Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana
santai dan terbuka, sehingga setiap murid dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui
proses dialog:
a. Hindari
penyampaian pesan melalui proses pemberian nasehat, yaitu memberikan
pesan-pesan moral yang menurut guru dianggap baik.
b. Jangan
memaksa murid untuk memberi respons
tertentu apabila memang murid tidak
menghendakinya.
c. Usahakan
dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka, sehingga murid akan mengungkapkan perasaannya secara jujur
dan apa adanya.
d. Dialog
dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kelompok kelas.
e. Hindari
respons yang dapat menyebabkan murid terpojok, sehingga ia menjadi defensif.
(bersikap bertahan)
f. Tidak
mendesak murid pada pendirian tertentu.
g. Jangan
mengorek alasan murid lebih dalam.[15]
Untuk memahami secara lebih baik beberapa
hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan teknik VCT meliputi ;
a.
lebih
memfokuskan pada isu-isu kehidupan yang relevan, mengarahkan murid pada gaya hidup mereka dan bagimana prioritas
pribadi mereka merefleksikan urutan nilai-nilai.
b.
Tidak
berarti harus selalu sesuai dengan apa yang dikatakan atau dilakukan orang,
penerimaan itu berarti membantu murid untuk menerima dirinya sebagai individu dan
jujur dengan dirinya.
c.
VCT
tidak hanya untuk penerimaan tetapi juga untuk merefleksikan nilai.
d.
Melalui
VCT seseorang tidak hanya memahami arah tetapi juga kepuasan.[16]
[1] Hamzah B.Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif
dan Efektif, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2009), h. 9
[2] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan, (Jakarta,
Kencana, 2008, h. 281
[3] Meterray. Bernada, Landasan,
Fungsi, Ruang Lingkup tujuan Pengajaran PKn. Modul Bahan Belajar Mandiri, (Depdiknas:
2005), h. 19.
[4] Ibid, h. 19
[5]
http://islamwiki.blogspot.com/2009/03/perbedaan-akhlak-etika-dan-moral.html
[6] http://dewon.wordpress.com/2007/11/03/kategori-19/
[7] Ibid
[8] Ibid, h. 19
[9] Wina Sanjaya, Loc. cit. h. 281
[10] Meterray, Op.cit. h. 22
[11] Eva Musnelly, Modul Materi Pembelajaran Strategi Belajar Mengajar (S.M.B) IPS/PPKn SD,
(Pekanbaru: FKIP. UNRI, 2006), h. 42
[12] Ibid, hlm. 44
[13] Meterray, Loc.cit. h. 19
[14] Wina Sanjaya, Loc.cit. h.
282
[15] Ibid, h. 282
[16] Ibid, h. 282



0 komentar