Teknik VCT (Value Clarification Tehnique) Model Cerita

19.39



A.   Macam-Macam Model Pengajaran

Hamzah B. Uno mengemukakan beberapa model yang termasuk ke dalam pendekatan pembelajaran informasi diantaranya:
a.     Model perolehan konsep, tokohnya adalah Jerome Brunner
b.    Model berfikir induktif, tokohnya adalah Hilda Taba
c.     Model inquiry training tokohnya adalah Richard Suchman
d.    Model scientific inquiry, tokohnya adalah Joseph J. Schwab
e.     Model penumbuhan kognitif, tokohnya adalah Piagiet, Freud, Irving Siel, dan Kohlberg
f.      Model advance organizer, tokohnya adalah David Ausubel.
g.    Model memory, tokohnya antara lain Harry Lorayne dan Jerry Lucas.[1]

Berdasarkan pendapat di atas terlihat begitu banyak model-model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan. Setiap model-model tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda satu sama lainnya, dan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing pula.

B.   Pengertian Teknik VCT
Menurut Wina Sanjaya  menyatakan bahwa:
Tehnik mengklarifikasi nilai (Value Clarification Technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai tehnik pengajaran untuk membantu murid  dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri murid .[2]



 
 
Sedangkan menurut Bernade Materray mengemukakan bahwa teknik VCT dalam istilah sehari-hari dengan pengungkapan nilai-nilai moral pada peserta didik. Djahiri dalam Bernade Materray berpendapat bahwa melalui teknik VCT peserta didik dibina kesadaran emosional nilainya melalui cara yang kritis, pengklarifikasian dan menguji kebenaran, kebaikan, keadilan, kelayakan dan ketepatannya.[3]
Hal senada yang dinyatakan oleh Wahab dalam Bernade Materray, menyatakan bahwa:
Teknik pengungkapan nilai (VCT) membantu mengungkapkan moral yang dimiliki murid  tentang hal-hal tertentu. Pendekatannya membantu murid  menemukan dan menilai/menguji nilai-nilai yang mereka miliki untuk mencapai perasaan diri yang lebih bermakna dan mantap. Pertimbangan adalah faktor kunci dari model VCT disenangi atau tidak disenangi. Semua nilai termasuk moral dipandang sebagai personal dan relatif. Klarifikasi nilai tidak menetapkan adanya hierarchi standar moral, fokusnya adalah membantu murid  berkenalan dengan nilai-nilai yang dimilikinya  seperti nilai tatkrama, baik/buruk, halal/haram, dosa/tidak dosa dalam kehidupan sehari-hari menghormati orang tua, guru dan lainnya.[4]

Berdasarkan beberapa pengertian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa sebagai model mengajar, maka VCT diartikan sebagai teknik pengajaran untuk menanamkan dan menggali/mengungkapkan nilai-nilai tertentu pada diri murid . Nilai adalah keyakinan, kepercayaan, norma, aturan atau suatu kepatutan keharusan yang dianut seseorang maupun kelompok masyarakat tentang sesuatu.
Seringkali dalam pengungkapan banyak tulisan antara akhlak , etika dan moral tidak dibedakan. Bahkan cenderung menyamakan maksud antara ketiganya. Akan tetapi sebenarnya, pada dasarnya ketiga istilah tersebut memiliki perbedaan yaitu akhlak tolak ukurnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, etika tolak ukurnya adalah pikiran/akal, moral tolak ukurnya adalah norma yang hidup dalam masyarakat.[5] Perbedaan antara akhlak, moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran yang baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh masyarakat.[6]
Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal,  sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi.[7]
C.   Model-model VCT
Bernade Materray mengemukakan beberapa model-model VCT antara lain:
a.    VCT dengan model percontohan/model cerita

Guru dapat menyusun cerita yang kiranya dapat membawa murid  untuk menarik pelajaran dari contoh-contoh yang diungkapkan melalui pokok bahasan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan murid , yang cocok dengan lingkungan kehidupan/bermain mereka. Dalam mengawali pelajaran guru menyampaikan cerita yang diikuti dengan beberapa pertanyaan.

b.    VCT dengan model analisa tulisan

Teknik ini dapat digunakan untuk kelas tiga di mana murid  telah bisa membaca, menalar dan juga membandingkan. Model analisa dapat dilakukan dengan (a). Analisa reportase/liputan (b). Analisa secara seksema/akurat (c). Analisa Tulisan (d). Analisa certa tidak selesai.

1)    Analisa Liputan

Guru menetapkan target nilai  sesuai dengan dengan pokok bahasan, membagikan atau tempel gambar dipapan tulis yang kira-kira memuat nilai yang hendak di capai dalam mengerjakan pokok bahasan tertentu. Lihat reaksi murid , namun jangan diberi komentar terlebih dahulu. Biarkan mereka saling berdialog. Identifikasi liputan murid  baik individu maupun kelompok tanpa meminta alasan semua. Guru mengomentari dan mengungkapkan secara jelas termasuk argumentasi sambil mengarahkan pada konsep/materi/nilai pelajaran. Kemudian menyusun kesimpulan oleh murid  atau kelompok bersama guru atau langsung oleh guru dengan mengarahkannya terhadap materi pelajaran/target nilai.

2)    Analisa Secara Seksama/akurat

Dengan media stimulus di papan tulis, murid  secara individu atau kelompok diminta melakukan kajian terhadap media, untuk meneliti secara detil memperbandingkan dengan hal yang sama yang diketahui murid , membuat telaahan yang didasarkan atas argumen/pendapat murid  serta mengambil kesimpulan.

3)    Analisa tulisan

Dalam analisis tulisan guru memilih tulisan yang bermuatan nilai sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Guru meminta murid  memberi tanda pada kalimat, kata-kata atau ungkapan yang dianggap baik atau buruk. Tanda dapat berupa garis bawah atau garis merah. Murid  juga dapat diminta membuat tulisan tentang suatu artikel atau guntingan koran yang diambil dari majalah atau koran baik oleh guru maupun oleh murid .
4)    Analisis cerita tidak selesai

Guru menyiapkan suatu cerita sesuai dengan pokok bahasan, ceritanya belum selesai kemudian setelah murid  membaca cerita tersebut, murid  disuruh menyelesaikan menurut pikirannya msing-masing. Beberapa murid  disuruh membacakannya, kemudian guru meluruskan cerita tersebut sesuai dengan pokok bahasan diberikan.

c.     VCT dengan model daftar atau matriks seperti :

Dengan baik buruk, tingkat urutan, gejala kontinue, membaca fikiran orang lain. Guru menyiapkan bahan daftar berupa contoh prilaku yang menggambarkan nilai atau prilaku tertentu yang memuat nilai atau prilaku dalam pokok bahasan yang akan diajarkan. Kemudian guru dan murid  mendiskusikan mengapa mereka menilai contoh prilaku itu baik atau buruk serta alasan penilaian mereka dan dilanjutkan pengamatan oleh guru.

d.    VCT dengan model simulasi atau bermain/bermain peran/games.

Sebaiknya guru menyiapkan skenario pelaksanaan untuk dijelaskan kepada kelas atau kelompok, pemain untuk dipahami dan dilaksanakan. Materinya berisi target nilai atau prilaku yang akan diajarkan. Melalui bermain peran murid  dapat mengamati dan merasakan atau menirukan prilaku yang muncul atau ditampilkan dalam peran tersebut yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan murid . Dengan bermain peran murid  mengalami sendiri suatu keadaan yang sengaja diciptakan (buatan) murid  juga diajak unuk berimajinasi tentang apa yang diperankannya termasuk dialog dengan dirinya sendiri .[8]

D.  VCT (Value Clarification Technique) dengan model cerita
Tehnik mengklarifikasi nilai (Value Clarification Technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai tehnik pengajaran untuk membantu murid  dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri murid .
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa tekhnik VCT dengan model cerita dilakukan dengan usaha guru menyusun cerita yang kiranya dapat membawa murid untuk menarik pelajaran dari contoh-contoh yang diungkapkan melalui pokok bahasan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan murid, yang cocok dengan lingkungan kehidupan/bermain mereka.
Dalam mengawali pelajaran guru menyampaikan cerita yang dikuti dengan beberapa pertanyaan.
Contoh dari cerita yang akan dibacakan oleh guru yaitu:
Akibat Kelalaian Hindun
        Sesudah shalat Isya Pak Syafi’i bersama istrinya pergi ke acara kondangan pengantin di desa tetangga. Fatma menjaga rumah bersama adiknya, Hindun. Fatma menyelesaikan tugas dari guru, sedangkan Hindun sedang menonton televisi.
        Berkali-kali Fatma mengingatkan Hindun untuk segera belajar, atau setidaknya menyiapkan alat tulis untuk besok pagi. Namun, Hindun hanya menjawab, “Nanti dulu, Kak, acaranya masih bagus.”
        Dua jam telah lewat. Setelah menyelesaikan tugasnya, Fatma segera memasukkan peralatan sekolah ke tempat semula, sedangkan Hindun tertidur dikursi. Fatma mencoba membangunkan adiknya.
        “Kamu belum belajar, ya?” Tanya Fatma.
        “Ngantuk, kak, besok pagi saja.” Jawab Hindun setengah bangun.
        Malam hari Pak Syafi’i pulang dan melihat Hindun tidur di kursi, lalu segera memindahkannya ke tempat tidur.
        “Sudah belajar, Fatma?”, tanya Pak Syafi’i. “Sudah, Yah, tetapi Hindun belum. Berkali-kali Fatma ingatkan tetapi tetap ia tidak mau, katanya besok pagi saja.”
         “Ya, sudah. Mari kita tidur, agar besok bisa bangun pagi-pagi.” Kata Pak Syafi’i.
        Sebelum subuh keluarga Pak Syafi’i sudah bangun, kecuali Hindun. Berkali-kali ibunya membangunkan, tetapi belum juga mau bangun, alasanya masih mengantuk. Sesudah shalat subuh Pak Syafi’i membangunkan Hindun. Masih setengah mengantuk Hindun bangun dan segera bergegas shalat subuh.
        Sesudah shalat, Hindun kebingungan. Ia belum menyiapkan pelajaran hari ini, belum mengerjakan tugas sekolah, dan belum belajar, padahal hari ini ada ulangan. Ketiganya tidak mungkin dikerjakan dalam satu waktu. Peralatan sekolah sudah ia siapkan. Ia segera mengerjakan tugas sekolah, tetapi ia lupa mencatat tugas kemarin. Mau pinjam catatan Sheba, rasanya tidak enak, hari masih pagi, tentu keluarga semua juga sibuk, pikirnya. Ia memutuskan untuk belajar saja.
        Hindun berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia berharap bisa menemui temannya untuk meminjam catatan dan tugas. Tetapi kebanyakan temannya datang lima belas menit sebelum jam masuk. Meskipun dengan sungguh-sungguh dan cepat, tetapi tugas sekolah tetap tidak dapat ia selesaikan.
        Pak Ahmad memeriksa tugas murid kelas tiga. Hindun mendapat nilai dua, ia termasuk urutan terbawah. Saat diadakan ulangan, Hindun hanya mendapat nilai empat. Sekarang ia menyesal. Tetapi penyesalannya sudah terlambat.
        Begitulah Hindun, karena melalaikan tugas sekolah maka ia dimarahi guru dan mendapat nilai jelek. Karena malas belajar, maka ia tidak mampu menyelesaikan ulangan dengan baik.
Wina Sanjaya menjelaskan bahwa:
Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri murid  kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru hendak ditanamkan. VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral VCT bertujuan :

a.    Untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran murid  tentang suatu nilai.
b.   Membina kesadaran (menyadarkan murid  tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya (positif atau negatif).
c.    Sebagai tehnik pengajaran untuk menanamkan suatu nilai kepada murid  melalui cara yang rasional dan diterima murid  sebagai milik pribadinya.
d.   Melatih dan membina murid  tentang bagaimana cara menilai, menerima serta mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai  warga masyarakat.[9]

Hal senada dikemukakan oleh Adnan dalam Bernada Meterray menyatakan kegunaan pengajaran VCT  ialah antara lain:
a.    Membantu kemudahan proses klarifikasi (kejelasan) nilai, moral dan norma yang harus dikaji dan diserap peserta didk, sosok diri yang bersangkutan.
b.   Memudahkan dan meningkatkan keberhasilan proses internalisasi dan personalisasi nilai-moral-norma yang disampaikan/diharapkan.
c.    Memantapkan dan memperluas hasil belajar peserta didik.
d.   Meningkatkan kadar CBSA dan mengajar guru secara lebih manusiawi, penuh gairah dan menyenangkan.
e.    Meningkatkan kepaduan proses kognitif dengan afektif dan psikomotorik
f.     Meningkatkan kepaduan antara dunia persekolahan/ilmu pengetahuan dengan dunia kehidupan nyata.[10]

Dari uraian sebelumnya, jelaslah kiranya bahwa pengungkapan nilai-nilai atau sikap dari seseorang seyogyanya dilakukan sebelum kita menanamkan nilai/sikap baru pada orang tersebut. Sebab dengan ini kita akan mengetahui keadaaan yang bersangkutan, serta jenis hambatan atau tanggapan orang tersebut tentang nilai yang akan kita tanamkan. Gambaran ini akan sangat menentukan pilihan strategi belajar mengajar yang harus kita pergunakan. Bukankah kita sadari bahwa keadaan serta pribadi diri murid  perlu mendapatkan pertimbangan mendalam sebelum sesuatu kita rencanakan serta laksanakan. Kesalahan umum dalam pengajaran nilai/sikap/moral yang kita lakukan, umumnya justru tidak pernah mengetahui dengan pasti jenis serta tingkat keadaan nilai/sikap yang ada dalam diri murid  dengan yang baru diajarkan terdapat ketidak cocokkan atau mungkin bertentangan. Sehingga terjadilah pribadi yang kacau (frustasi,bingung), konflik atau pura-pura.
Ruth dalam Eva Musnelly, salah satu tokoh VCT mengemukakan langkah belajar/mengajar suatu nilai yang memperpadukan faktor pribadi diri murid  dengan apa yang baru atau kenyataan. Beliau mengungkapkan perlunya keadaan-keadaan serta kegiatan belajar sebagai berikut:
a.    Kebebasan memilih pada diri murid
b.   Membina kebanggaan
c.    Melaksanakan[11]
Dari uraian sebelumnya, secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa pengajaran moral/nilai/sikap seyogyanya membuka iklim dan kegiatan sebagai-berikut:
a.    Timbulkan suasana kebebasan memilih pada murid , baik memilih masalah, memilih alternatif pemecahan masalah dan penilaiannya maupun dalam menentukan sebab dan alasan pertimbangannya. Guru pada langkah ini berperan sebgai penyodor permasalahan secara lengkap, juga bila perlu menyodorkan alternatif pemecahan atau penilaian sebagai pengarahan atau mengajukan pertanyaan koreksi yang akan dijawab murid  itu sendiri.
b.   Menciptakan rasa bangga/harga diri dengan apa yang ada atau dimiliki dalam dirinya serta apa yang menjadi pilihannya.
c.    Menciptakan kesempatan untuk mencoba dan mengerjakannya. Peran guru disini sebagai pendorong dan pembina atau pemberi fasilitas.

E.    Keunggulan Dan Kelemahan Model VCT
Musnelly Eva menyatakan bahwa:
VCT sangat bermanfaat untuk pengajaran moral dan pengajaran yang menitikberatkan kepada tujuan perubahan sikap (attitude). Sebagaimana kita ketahui bahwa sampai sekarang orang masih berdebat dan belum tahu pasti apakah sikap dan moral itu dapat diajarkan oleh guru. Leonard Kenworthy mengetengahkan rumus P (pengetahuan) + S (sikap) + K (keterampilan) = B (behavior/kelakuan). Hal ini menggambarkan bahwa sikap lahir secara berbarengan. Melalui teknik dan langkah tertentu dicoba ditanamkan kepada murid  melalui penimbulan kesadaran nilai murid  itu sendiri serta melalui cara-cara yang kritis rasional dengan menggunakan langkah dan proses belajar yang sewajarnya. Jadi peranan sikap/nilai ini tidak secara melompati langkah dan proses belajar tersebut melainkan ditanamkan secara bertahap.[12]

Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memperhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri murid . Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri murid  karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Murid  sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru.

F.                Langkah-Langkah KBM VCT Dengan Percontohan/Model Cerita
Bernada Meterray mengatakan VCT dengan Model Cerita dapat dilakukan dengan mencari/membuat stimulus berupa contoh keadaan/perbuatan yang memuat nilai, norma sesuai dengan topik atau target nilai pelajaran. Dirakit dalam bentuk cerita yang dapat menyeret perasaan kejiwaan anak dan menyentuh hati nuraninya. Langkah-langkah KBM VCT dengan percontohan/cerita termasuk dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor, tetapi VCT ini lebih menekankan di aspek kognitif langkah-langkah tersebut adalah :
a.       Menyampaikan stimulus cerita melalui pembacaan cerita oleh guru atau murid .
b.      Berikan kesempatan beberapa menit untuk anak berdialog sendiri atau sesama teman.
c.       Melaksanakan dialog terpimpin oleh guru melalui pertanyaan yang sudah disiapkan (secara individual, kelompok,klasikal) seperti : pertanyaan tentang kesan emosi siwa, masalahnya, pelaku dan ketidaklayakan/kelayakan pelaku, pertanyaan personifikasi.
d.      Menentukan argumen dan klasifikasi pendidikan (juga melalui pertanyaan guru secara individu, kelompok, klasikal)
e.       Pembahasan (guru menanamkan jarum nilai, pelajaran, kosep sesuai dengan materi)
f.        Penyimpulan dilakukan oleh guru atau bersama murid  dan mengalihkan tanggapan murid  pada materi lain.[13]

John Jarolimek dalam Wina Sanjaya menjelaskan langkah pembelajaran VCT dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat. Setiap tahapan dijelaskan dibawah ini.
a.      Kebebasan memilih. Pada tahap ini terdapat 3 tahap, yaitu:
1)  Memilih secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh.
2)  Memilih dari beberapa alternatif. Artinya, untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas.
3)  Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
b.     Menghargai. Terdiri atas dua tahap pembelajaran yaitu :
1)    Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian integral dari dirinya.
2)    Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita menganggap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untuk menunjukkannya di depan orang lain.
c.      Berbuat. Terdiri atas :
1)  Kemampuan dan kemauan untuk mencoba melaksanakannnya.
2)  Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.[14]
VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dalam praktek pembelajaran, VCT dikembangkan melalui proses dialog antara guru dan murid . Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, sehingga setiap murid  dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog:
a.      Hindari penyampaian pesan melalui proses pemberian nasehat, yaitu memberikan pesan-pesan moral yang menurut guru dianggap baik.
b.     Jangan memaksa murid  untuk memberi respons tertentu apabila memang murid  tidak menghendakinya.
c.      Usahakan dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka, sehingga murid  akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa adanya.
d.     Dialog dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kelompok kelas.
e.      Hindari respons yang dapat menyebabkan murid  terpojok, sehingga ia menjadi defensif. (bersikap bertahan)
f.       Tidak mendesak murid  pada pendirian tertentu.
g.      Jangan mengorek alasan murid  lebih dalam.[15]

Untuk memahami secara lebih baik beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan teknik VCT meliputi ;
a.      lebih memfokuskan pada isu-isu kehidupan yang relevan, mengarahkan murid  pada gaya hidup mereka dan bagimana prioritas pribadi mereka merefleksikan urutan nilai-nilai.
b.     Tidak berarti harus selalu sesuai dengan apa yang dikatakan atau dilakukan orang, penerimaan itu berarti membantu murid  untuk menerima dirinya sebagai individu dan jujur dengan dirinya.
c.      VCT tidak hanya untuk penerimaan tetapi juga untuk merefleksikan nilai.
d.     Melalui VCT seseorang tidak hanya memahami arah tetapi juga kepuasan.[16]





[1] Hamzah B.Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 9
[2] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta, Kencana,  2008, h. 281

[3] Meterray. Bernada, Landasan, Fungsi, Ruang Lingkup tujuan Pengajaran PKn. Modul Bahan Belajar Mandiri, (Depdiknas: 2005), h. 19.
[4] Ibid, h. 19
[5] http://islamwiki.blogspot.com/2009/03/perbedaan-akhlak-etika-dan-moral.html
[6] http://dewon.wordpress.com/2007/11/03/kategori-19/
[7] Ibid
[8] Ibid, h. 19
[9] Wina Sanjaya, Loc. cit.  h. 281
[10] Meterray, Op.cit. h. 22
[11] Eva Musnelly, Modul Materi Pembelajaran Strategi Belajar Mengajar (S.M.B) IPS/PPKn SD, (Pekanbaru: FKIP. UNRI, 2006), h. 42
[12] Ibid, hlm. 44
[13] Meterray, Loc.cit. h. 19
[14] Wina Sanjaya, Loc.cit. h. 282
[15] Ibid, h. 282
[16] Ibid, h. 282

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook