10 Rumusan Tujuan Pendidikan Islam menurut Para Ahli





1.      M. Athiyah al-Abrasyi
Ada lima tujuan bagi pendidikan Islam; (1) untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia, (2) persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat, (3) persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat, atau yang lebih dikenal dengan tujuan-tujuan vokasional dan professional, (4) menumbuhkan semangat ilmiyah pada pelajar dan memuaskan keinginan tahu (curiosity) dan memungkinkan ia mengakaji ilmu demi ilmu itu sendiri, dan (5) menyiapkan pelajar dari segi professional, dan teknikal, serta pertukangan supaya dapat dapat menguasai profesi tertentu agar ia dapat mencari rezeki dalam hidup di samping memelihara segi kerohanian dan keagamaan. (M. Athiyah al-Abrasyi, Al-Tarbiyah al-Islamiyah wa falsafatuha (Qahirah: Isa al-Babi al-Halabi, 1969), h. 71).
2.      Ali Ashraf
Ada tujuh tujuan pendidikan Islam adalah; (1) mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam, serta mengembangkan pemahaman rasional mengenai Islam dalam konteks kehidupan modern. (2) Membekali anak muda dengan berbagai pengetahuan dan kebajikan, baik pengetahuan praktis, kekuasaan, kesejahteraan, lingkungan social, dan pembangunan nasional. (3) Mengembangkan kemampuan diri anak didik untuk menghargai dan membenarkan superioritas komparatif kebudayaan dan peradaban islami di atas kebudayaan lain. (4) Memperbaiki dorongan emosi melalui pengakaman imajinatif. (5) membantu anak berpikir logis dan membimbing pemikirannya secara bijak. (6) Mengembangkan wawasan relasional dan lingkungan. (7) Mengembangkan, menghaluskan, dan memperdalam kemampuan berkomunikasi dalam bahasa tulis dan bahasa lisan. (lihat: Ali Ashraf, Horizon Baru Pendidikan Islam (terj.), (Jakarta: Firdaus, 1989), h. 150).
3.      World Conference on Muslim Education Pertama di Mekkah pada tanggal 31 Maret sampai 8 April 1977
“Education should aim at balanced growth of the total personality of man through the training of mans spirit, intellect, the rational self, feeling and bodily senses, education should there fore cater for the growth of man in all its aspects, spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively and motivate all these aspects towards goodness and the attainment of perfection. The ultimate aim of Muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the commenity and humanity at Large”.Artinya: Pendidikan harus ditujukan pada pertumbuhan yang seimbang dari seluruh kepribadian manusia melalui latihan atas jiwa, akal, diri rasional,  perasaan, dan indra-indra jasmaniahnya. Oleh karena itu, pendidikan harus mendukung pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, spiritual, intelektual,  imajinatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun kolektif dan mendorong semua aspek ini menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah merealisasikan kepasrahan penuh pada  Allah pada tingkat individual, komunitas dan umat. (lihat: Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988, hal. 308).
4.      Imam Al-Ghazali
Tujuan umum pendidikan Islam mengarah kepada dua sasaran. Pertama, kesempurnaan manusia, yang puncaknya adalah taqarrub(mendekatkan diri) kepada Allah. Kedua, kesempurnaan manusia, yang puncaknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.51Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam dalam pandangan al-Ghazali adalah untuk mencapai dua tujuan tersebut sekaligus.(Lihat: Fathiyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan Al-Ghazali, terj. Ahmad Hakim dan Imam Aziz, Jakarta: P3M,1986), hal. 19-20).
5.      Abd. Rahman al-Nahlawy
Tujuan akhir pendidikan Islam adalah; (1) Memperkenalkan kepada generasi muda akan akidah Islam, dasar, asal-usul, serta cara melaksanakannya, dengan membiasakan mereka berhati-hati mematuhi akidah agama, menjalankan serta menghormati syi’ar agama, (2) Menumbuhkan kesadaran yang betul pada pelajar terhadap agama, termasuk prinsip dan dasar akhlak mulia. (3) Menanamkan keimanan kepada Allah pencipta alam, malaikat, rasul, kitab, dan hari akhirat berdasarkan paham kesadaran dan perasaan. (4) Menumbuhkan miat generasi muda untuk menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan, serta mengikuti hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan. (5) Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada al-Quran, serta membaca, memahami, dan mengamalkan ajarannya dengan baik. (6) Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Islam, serta pahlawannya dan mengikuti jejak mereka. (7) Menumbuhkan rasa rela, optimisme, percaya diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban, tolong menolong atas kebaikan dan taqwa, kasih sayang, cinta kebaikan, sabar, berjuang untuk kebaikan, memegang teguh pada prinsip, berkorban untuk agama, tanah air, dan siap untuk membelanya. (8) Mendidik naluri, motivasi, keinginan generasi muda dan menguatkannya dengan akidah dan nilai, dan membiaskan mereka mengarahkan motivasinya, mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik. Bengitu juga mengajar mereka berpegang dengan adab sopan-santun pada hubungan dan pergaulan mereka baik di rumah maupun sekolah,  atau di mana saja. (9) Menanamkan iman yang kuat kepada Allah pada diri mereka, perasaan keagamaan, semangat keagaaan, dan akhlak pada diri mereka, serta menyuburkan hati mereka dengan rasa cinta, zikir, takwa, dan takut kepada Allah. (10) Membersihkan hati mereka dari rasa dengki, hasad, irihati, benci, kekasaran, kezaliman, egoisme, tipuan, khianat, nifak, ragu, perpecahan, dan perselisihan. (lihat: Lihat Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995), h. 64-65.)
6.      Al-Buthi (1961 : 102)
Ada tujuh macam tujuan umum pendidikan Islam, yaitu: (1) Mencapai keridhaan Allah, menjauhi murka dan siksaan-Nya dan melaksanakan pengabdian yang tulus ikhlas kepada-Nya. Tujuan ini dianggap induk dari segala tujuan pendidikan Islam. (2) Mengangkat tarap akhlak  dalam masyarakat berdasarkan pada agama yang diturunkan untuk membimbing masyarakat ke arah yang diridhai oleh Nya. (3) Memupuk rasa cinta tanah air pada diri manusia berdasar pada agama yang diturunkan untuk membimbing masyarakat ke arah yang diridhai-Nya. (4) Memupuk rasa cinta tanah air pada diri manusia berdasar pada ajaran agama dan ajaran-ajaran yang dibawanya, begitu juga mengajar manusia kepada nilai-nilai dan akhlak yang mulia. (5) Mewujudkan ketentraman di dalam jiwa dan akidah yang dalam, penyerahan dan kepatuhan yang ikhlas kepada Allah SWT. (6) Memelihara bahasa dan kesusastraan Arab sebagai bahasa Al-Quran, dan sebagai wadah dan unsur kebudayaan Islam yang paling menonjol, menyebarkan kesadaran Islam yang sebenarnya dan menunjukkan hakikat agama atas keberhasilan dan kecemerlangannya, dan (7) Meneguhkan perpaduan tanah air dan menyatukan barisan melalui usaha menghilangkan perselisihan, bergabung dan kerja sama dalam rangka prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah. (lihat: Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, h. 62-63).
7.      Syed-Sajjad Husein dan Syed Ali Ashraf
Tujuan pendidikan Islam dalam al-Quran dapat dibagi menjadi empat bagian: Pertama, mengenalkan manusia akan peranannya di antara semua makhluk dan tanggungjawab pribadinya dalam kehidupan ini. Kedua, mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggungjawabnya dalam tata hidup bermasyarakat. Ketiga, mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah ciptaannya serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat dari alam tersebut. Keempat, mengenalkan manusia akan pencipta alam ini dan memerintahkan beribadah kepada-Nya. (Lihat: Muhammad Fadhil Al-Jamali, Filsafat Pendidikan dalam Al-Quran, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1986), h. 3).
8.      Umar Muhammad al-Toumi al-Syaibani
Tujuan khas pendidikan Islam itu meliputi: (1) Memperkenalkan kepada generasi muda akan aqidah-aqidah Islam, dasar-dasarnya, asal-usul ibadah, dan cara-cara melaksanakannya dengan betul dengan membiaskan mereka  berhati-hati mematuhi akidah-akidah agama dan menjalankan serta menghormati syi’ar-syi’ar agama. (2) Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajar terhadap agama, termasuk prinsip-prinsip dan dasar-dasar akhlak yang mulia. Begitu juga menyadarkannya akan bid’ah-bid’ah, khurafat-khurafat, kepalsuan-kepalsuan dan kebiasaan-kebiasaan usang yang melekat kepada Islam itu tanpa disadari, padahal Islam itu bersih. (3) Menanamkan keimanan kepada Allah SWT. pencipta alam, kepada malaikat, Rasul-rasul, kitab-kitab, dan hari akhirat berdasarkan paham kesadaran dan kehalusan perasaan. (4) Menumbuhkan minat generasi muda untuk menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan, dan untuk mengikuti hukum-hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan. (5) Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada Al-Quran, berhubung dengannya, membacanya dengan baik, memahaminya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya. (6) Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Islam dan pahlawan-pahlawannya, serta mengikuti jejek mereka. (7) Menumbuhkan rasa rela, optimisme, kepercayaan diri, tanggungjawab, menghargai kewajiban, tolong-menolong atas kebaikan dan takwa, kasih sayang, cinta kebaikan, sabar, perjuangan untuk kebaikan, memegang teguh pada prinsip, berkorban untuk agama dan tanah air serta bersiap membelanya. (8) Mendidik naluri, motivasi, keinginan generasi muda, membentengiya dengan akidah dan nilai-nilai, membiasakan mereka menahan motivasi-motivasinya, mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik. Begitu juga mengajar mereka berpegang pada adab kesopanan dalam hubungan dan pergaulan mereka, baik di rumah atau sekolah, di jalanan atau di lain bidang dan lingkungan. (9) Menanamkan iman yang kuat kepada Allah SWT. dalam diri mereka, menguatkan perasaan agama dan dorongan agama serta akhlak dalam diri mereka, menyuburkan hati dengan kecintaan, zikir, takwa, dan takut kepada Allah. (10) Membersihkan hati dari dengki, hasat, iri hati, benci, kekasaran, kezaliman, egoisme, tipuan, khianat, nifak, perpecahan, dan perselisihan. (lihat: Umar Muhammad al-Toumi al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam terjemahan Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 422-424).
9.      Ibn Khaldun
Tujuan pendidikan Islam sebagai berikut: (1) Mempersiapkan seseorang dari segi keagamaan, yaitu mengajarkan syi’ar-syi’ar  agama menurut Al-Quran dan sunnah sebab dengan jalan itu potensi iman itu memperkuat, sebagaimana halnya dengan potensi-potensi lain yang jika mendarah daging, maka ia seakan-akan menjadi fitrah. (2) Mempersiapkan seseorang dari segi akhlak. (3) Menyiap seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial. (4) Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan. Dikatakannya, bahwa mencari dan menegakkan hidupnya untuk mencari pekerjaan, sebagaimana ditegaskan pentingnya pekerjaan sepanjang umur manusia, sedangkan pengajaran atau pendidikan dianggapnya termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu. (5) Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran sebab dengan pemikiranlah seseorang dapat memegang berbagai pekeraan dan pertukaran atau ketrampilan tertentu. (6) Menyiapkan seseorang dari segi kesenian. Kesenian di sini termasuk musik, sya’ir, seni bina, dan lain-lain. (Lihat: Moh. Amin, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, (Pasuruan: GBI Anggota Ikapi), 1992), h. 27-28)
10. Jusuf Amir Faisal
Tujuan pendidikan Islam itu dapat dipecah menjadi tujuan-tujuan berikut: (1) Membentuk manusia muslim yang dapat melaksanakan ibadah mahdhah. (2) Membentuk manusia muslim yang di samping dapat melaksanakan ibadah mahdhah dapat juga melaksanakan ibadah muamalah dalam kedudukannya sebagai orang perorang atau sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan tertentu. (3) Membentuk warga negara yang bertanggungjawab kepada masyarakat dan bangsanya dalam rangka bertanggungjawab kepada Allah Penciptanya. (5) Membentuk dan mengembangkan tenaga profesional yang siap dan terampil atau tenaga setengah terampil untuk memungkinkan  memasuki tekno struktur masyarakatnya. (6) Mengembangkan tenaga ahli di bidang ilmu (agama dan ilmu-ilmu islami lainnya).(Lihat: Jusuf Amir Faisal,  Reorientasi  Pendidikan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 96).




Peningkatan Kemampuan Siswa DalamPraktek Shalat Fardhu Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Picture And Picture



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latarbelakang Masalah

Dalam proses pendidikan guru merupakan salah satu faktor yang menentukan terhadap keberhasilan siswanya. Dengan demikian guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tidak hanya dituntut agar mampu menyampaikan materi pelajaran dan menguasai bahan pelajaran tetapi harus dapat mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar. Guru hendaknya selalu berusaha memberikan bimbingan dan selalu mendorong semangat belajar anak didik, mengorganisasikan kegiatan belajar sebaik mungkin dan menjadi media informasi yang sangat dibutuhkan siswa dibidang pengetahuan, keterampilan dan perilaku atau sikap.[1] Termasuk di dalamnya meningkatkan kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Keterampilan mempraktekkan shalat fardhu sangat penting bagi manusia terutama murid sebagai generasi penerus, karena untuk menjadi hamba Allah SWT dalam artinya sebenarnya dibutuhkan cara bagaimana murid agar dekat dengan Allah SWT. Bagaimana murid merasa dicintai oleh Allah SWT, diantara cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah melaksanakan shalat fardhu dengan sempurna.
1
 
Oleh karena itu, siswa di SD mempelajari pelaksanaan shalat fardhu agar siswa dapat menerapkan di kehidupan sehari-harinya. Karena shalat fardhu merupakan salah satu ibadah mahdhah, sebagaimana Allah SWT telah mengatakan dalam al-Qur’an :
¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. n?tã šúüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ
Artinya : “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Q.S. An-Nisa: 3)[2]

Tujuan Pendidikan Islam yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam al-Qur’an disebut “Muttaqin”. Karena itu pendidikan Islam berarti juga pembentukan manusia yang bertaqwa. Ini sesuai benar dengan pendidikan nasional yang dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia pancasila yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.[3]
Mengingat pentingnya pendidikan agama Islam bagi anak juga dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an yaitu :
Artinya:   “Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).”( Q.S. Ar-Rum: 56)[4]
Untuk mewujudkan hal demikian, maka Pendidikan Agama Islam di sekolah harus benar-benar dilaksanakan dengan cara yang baik agar dapat diterima dan diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan apa yang dicita-citakan dan yang diharapkan.
Pada jenjang kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam terdapat beberapa materi yang harus dikuasai oleh peserta didik diantaranya yaitu mempraktekkan shalat fardhu, dari materi tersebut siswa diharapkan mampu menguasainya dengan proses pembelajaran yang akurat. Dalam kegiatan belajar tersebut keterlibatan siswa dan guru sangat di harapkan. Guru dalam hal ini harus menguasai teknik dan strategi metode mengajar.
Di kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi ini murid bervariasi dalam dalam mempraktekkan shalat fardhu, ada yang bisa namun masih kurang sempurna dan adapula yang tidak bisa sama sekali mempraktekkan shalat fardhu. Dalam hal ini guru sudah berusaha dengan maksimal, bagaimana supaya sebagian anak tidak bisa melaksanakan shalat fardhu sebagaimana temannya yang lain.
Dari materi yang telah disebutkan diatas, menurut pengamatan penulis guru telah mengajarkan materi tersebut kepada siswa agar mereka mampu melaksanakan shalat dengan benar, dan guru telah melakukan beberapa metode untuk pembelajaran tersebut antara lain metode ceramah, tanya jawab, driil, dan lainya. Akan tetapi kenyataannya kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu masih rendah. Hal ini ditandai dengan hasil nilai yang dapat siswa kelas III baru mencapai 6,5, dikarenakan siswa tidak semangat dalam belajar dan kurang memperhatikan penjelasan guru, dikarenakan siswa tidak dapat belajar dengan baik sedangkan (KKM) yang harus dicapai pada kelas tersebut adalah 70. [5]
Berdasarkan pengalaman penulis selama bertugas di SDN 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi menemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1.      Daya serap siswa terhadap materi pengertian sholat fardhu masih kurang baik secara individu maupun kelompok.
2.      Siswa belum mampu melafalkan bacaan sholat fardhu dengan baik dan benar.
3.      Siswa belum tertampil mempraktekkan sholat fardhu dengan baik dan benar.
Berdasarkan masalah-masalah di atas, dapat dianalisis bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu. Pada dasarnya banyak upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu diantaranya dengan menggunakan media pembelajaran Picture And Picture yaitu suatu metode pembelajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Dengan penggunaan media ini diharapkan guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa, melatih berpikir logis dan sistematis.
Keunggulan dari media pembelajaran Picture and Picture yaitu:
  1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa
  2. Melatih berpikir logis dan sistematis
Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan dengan judul Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mempraktekkan Shalat Fardhu Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Picture And Picture (Gambar dan Gambar) Pada Siswa Kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi”.

B.     Definisi Istilah

1.      Kemampuan berasal dari kata mampu yaitu kuasa melakukan sesuatu, sanggup, dapat, berada, kaya[6]. Kemampuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kesanggupan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu.
2.      Media Pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis.[7] Dengan penggunaan Media pembelajaran ini diharapkan guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa, melatih berpikir logis dan sistematis.

C.    Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya adalah “Apakah Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Picture And Picture dapat Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mempraktekkan Shalat Fardhu Siswa Kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi?”   

D.    Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  apakah penerapan media pembelajaran Picture and picture (Gambar dan Gambar) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi.                               .  
2.Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan  bermanfaat bagi:
  1. Bagi siswa
1)      Untuk menumbuhkan kesadaran, bahwa kemampuan melaksanakan shalat fardhu sangatlah penting, khususnya pada pembelajaran dan umumnya dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Untuk meningkatkan kemampuan melaksanakan shalat fardhu siswa kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi.
  1. Bagi guru
1)      Dengan adanya penelitian ini menjadi pedoman bagi guru untuk memilih metode yang tepat dalam menampilkan model pembelajaran.
2)      Penelitian ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pengambilan tindakan perbaikan selanjutnya.
  1.  Bagi Sekolah :
1)      Sekolah mengetahui behwa dalam rangka meningkatkan kemampuan melaksanakan shalat fardhu, model pembelajaran iPicture and Picture merupakan langkah tepat untuk diterapkan.
  1. Bagi Peneliti
1)      Penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuan penulis.
2)      Mendapatkan informasi mengenai pengaruh penggunaan Media Pembelajaran Picture And Picture terhadap kemampuan mempraktekkan shalat fardhu siswa kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi


BAB II
KAJIAN TEORI


A.    Kerangka Teoritis

1.      Pengertian Keterampilan Sholat Fardhu
Bukti bahwa seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris adalah unsur jasmaniah. Sebab seseorang sedang berfikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikapnya dalam rohaninya tidak bisa kita lihat.
8
 
          Tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah aspek, hasil belajar kakan tampak dari setiap perubahan aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah : pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti serta sikap. Jika seseorang telah melakukan perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan dalam salah satu atau beberap aspek tingkah laku tersebut.[8] Keterampilan adalah kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan fisik dan mental.[9] Contoh kemampuan fisik adalah keterampilan memprogram komputer untuk menyusun data secara beraturan. Artinya dari teori tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan yang dimaksud termasuk ke dalam keterampilan motorik sesuai dengan sasaran penelitian penulis yaitu keterampilan motorik murid. Sedangkan kemampuan berfikir analitis dan konseptual adalah berkata dengan kemampuan mental atau kognitif seseorang.
2.      Jenis-jenis keterampilan dalam keterampilan proses
Adapun berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampila-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrited skills).
Katerampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yaknik: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan terintegtasi terdiri dari : mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan eksprimen.[10]

3.      Pengertian Shalat
Shalat adalah kewajiban setiap muslim, yang wajib dikerjakan. Dalam keadaan apapun shalat tetap wajib dilaksanakan kerena setiap orang yang menganut Agama Islam diwajibkan mempelajari dan mengamalkannya. Shalat adalah perintah Allah yang telah disyariatkan kepada Nabi Muhammad SAW, serta seluruh umat Nabi SAW yang sudah baligh dan berakal, serta meninggalkannya adalah dosa. Adapun tujuan disyariatkannya shalat selain bernilai ibadah, shalat juga dapat membuat ketenangan jiwa, dan sebagai latihan yang dapat dilakukan seseorang agar selalu sehat serta dapat membentuk pribadi muslim yang disiplin.
Setiap orang Islam mempercayai bahwa shalat adalah syariat Islam yang wajib dilaksanakan dan berdosa jika ditinggalkan. Shalat wajib juga disebut shalat fardu merupakan shalat yang harus dikerjakan oleh kaum muslimin, bila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan akan mendapat dosa.[11] Yang termasuk kedalam shalat wajib adalah shalat lima waktu (subuh, dzuhur, asar, magrib dan isa’).
 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. n?tã šúüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ
Artinya : “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”
Sehubungan dengan hal tersebut maka pendidikan merupakan suatu proses belajar yang harus dilalui oleh seseorang agar terjadi perubahan tingkah laku.  Sebagaimana dikemukakan oleh Sardiman bahwa pada intinya tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental/nilai-nilai.[12]
Sedangkan menurut Zainal muttaqin bahwa tujuan lembaga pendidikan adalah :
Menyiapkan peserta didik yang beriman, bertakwa kreatif dan inovatif serta berwawasan keilmuan dan juga dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Usaha menyiapkan peserta didik dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan seperangkat pembelajaran yang diberikan kepada siswa termasuk di dalamnya mata pelajaran agama.[13]

Shalat menurut bahasa artinya, adalah berdo’a. sedangkan menurut syara’ berarti: menghadapkan jiwa dan raga kehadirat Allah (sebagai bentuk pengabdian) dalam bentuk perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, hukum sholat fardhu lima kali sehari adalah wajib bagi semua orang yang telah dewasa atau aqil baligh serta normal tidak gila. Tujuan shalat adalah untuk mencegah perbuatan keji dan munkar.

Syarat sah pelaksanaan sholat adalah sebagai berikut ini :
1.   Masuk waktu sholat
2.   Menghadap ke kiblat
3.   Suci dari najis baik hadas kecil maupun besar
4.   Menutup aurat.[14]

Sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan, adapun syarat-syarat tersebut adalah:
a.       Gerakan shalat fardhu
Shalat yang dikerjakan mengikuti contoh dan petunjuk dari Allah SWT melalui utusannya yakni Nabi Muhammad SAW. Untuk dalam mengerjakan shalat harus sungguh-sungguh mengikuti sebagaimana yang diajarkan rasul. ”shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Berikut dapat dijelaskan tata cara pelaksanan shalat.
1)      Berdiri tegak menghadap kiblat  kedua tangan lurus disisi badan kemudian mata melihat kearah kiblat.
2)      Tabiratuliharam yakni gerakan mengangkat tangan ujung jari sejajar dengan telinga, kedua siku direnggangkan sambil mengucap “Allahu Akbar”
3)      Bersedekap, yaitu tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri dan terletak diantara dada dan perut.
4)      Ruku’, yaitu gerakan membungkukkan badan, punggunan sejajar lurus dengan kepala, kedua tangan memegang lutut mata memandang ketempat sujud.
5)      I’tidal, yaitu gerakan bangun dari ruku’, posisi badan tegak lurus menghadap kiblat, kedua tangan lurus disisi badan
6)      Sujud, yaitu gerakan merunduk sampai kepala menempelkan ketempat sujud, kedua tangan disamping kiri dan kanan badan, adapun anggota badan yang menempel ditempat sujud yaitu : dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki
7)      Duduk diantara dua sujud yaitu kedua tangan diatas paha, kaki kiri ditindih bagian pantat sedangkan ujung kaki kiri menghadap kiblat kemudian sujud kedua
8)      Tahiyat awal posisi duduk sama seperti posisi pada susuk diantara dua sujud
9)      Tahiyat akhir yaitu gerakan pantat bagian kiri menyentuh lantai, telapak kiri kanan ditegakkan, ujung jari menghadap kiblat, sementara ujung jari kaki kiri lurus menghadap utara. Kedua tangan berada diatas paha
10)  Salam, yaitu gerakan menoleh kekanan dan kemudian menoleh kekiri sambil mengucapkan salam.


4.      Media Pembelajaran Picture And Picture
a.      Pengertian Media
Media adalah bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dilihat, didengar dan dibaca.[15] Pendapat ini diperkuat oleh pendapat yang dikemukakan oleh Azhar Arsyad secara sederhana media diartikan sebagai alat yang menyampaikan atau pesan-pesan pembelajaran.[16]
Lebih lanjut media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya belajar. Sementara itu Briggs juga dalam Arief S. Sadiman dkk bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya.[17]
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, jelas bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

b.      Jenis-Jenis Media
Dalam proses pengajaran ada beberapa jenis media pengajaran yang biasa digunakan. Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan lain-lain.[18] Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan lain-lain. Keempat penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.
Hal senada juga dinyatakan oleh Brets dalam R. Ibrahim membuat klasifikasi media pengajaran berdasarkan adanya tiga ciri, yaitu : suara (audio), bentuk (visual) dan gerak (motion). Atas dasar ini Brets  mengemukakan beberapa kelompok media, sebagai berikut :
1)     Media audio-motion-visual, yakni media yang mempunyai suara, ada gerakan dan bentuk objektif dapat dilihat. Media semacam ini paling lengkap. Jenis media yang termasuk kelompok ini adalah televisi, video tape dan film bergerak.
2)     Media audio still visual, yakni media yang mempunyai suara, objeknya dapat dilihat, namun tidak ada gerakan, seperti film strip bersuara, slide bersuara dan rekaman televisi dengan gambar tak bergerak.
3)     Media audio semi motion, mempunyai suara dan gerakan, namun tidak dapat menampilkan suatu gerakan secara utuh. Contoh papan tulis jarak jauh atau tele blackboard.
4)     Media motion visual, yani media yang mempunyai gambar objek bergerak, tapi tanpa mengeluarkan suara, seperti film bisu yang bergerak.
5)     Media still visual, yakni ada objek namun tidak ada gerakan seperti film strip dan slide tanpa suara.
6)     Media audio, hanya menggunakan suara, seperti radio, telepon, dan audio tape.
7)     Media cetak yang tampil dalam bentuk bahan-bahan tercetak/ tertulis seperti buku, modul dan pamflet.[19]

c.       Pengertian Media Picture A Picture
Media Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis.[20] Dengan penggunaan metode ini diharapkan guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa, melatih berpikir logis dan sistematis.
Adapun langkah-langkah dalam metode pembelajaran Picture and Picture dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)     Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2)     Menyajikan materi sebagai pengantar.
3)     Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4)     Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5)     Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6)     Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/ materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7)     Kesimpulan/rangkuman.[21]

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Picture and Picture adalah merupakan metode mengajar dengan menggunakan gambar. Dengan demikian metode pembelajaran Picture and Picture diharapkan dapat menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran kemudian dapat mendorong minat siswa untuk lebih memperhatikan pelajaran. Selanjutnya metode pembelajaran Picture and Picture juga merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaraan yang memusatkan pembelajaran pada keikutsertaan siswa secara aktif karena dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk melakukan kegiatan sesuai dengan instruksi guru, disamping guru
Dalam proses pembelajaran ada beberapa langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam penggunaan media gambar yaitu:
a.       Objektifitas
Unsur subjektifitas enzim dalam memilih media pengajaran harus dihindarkan. Artinya guru tidak boleh memilih media atas dasar kesenangan pribadi, media pengajaran menunjukkan keaktifan dan efesien yang tinggi maka guru jangan bosan menggunakannya.
b.      Program pengajaran
Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku baik isinya atau strukturnya.
c.       Kualitas teknis
d.      Situasi dan kondisi
e.       Keefektifan dan efesien penggunaan media
Keefektifan berkenaan dengan hasil belajar yang dicapai, sedangkan efisiensi berkenaan dengan proses pencapain hasil belajar.[22]
Ada beberapa keunggulan dalam model pembelajaran Picture And Picture, yaitu sebagai berikut :
1)      Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2)      Melatih berpikir logis dan sistematis.[23]
Sedangkan kelemahan dari model pembelajaran Picture and Picture yaitu sebagai berikut:
1)      Memakan banyak waktu
2)      Banyak siswa yang pasif.[24]



B.     Penelitian Yang Relevan
Setelah penulis membaca dan mempelajari beberapa karya ilmiah sebelumnya, unsur relevannya dengan penelitian yang penulis laksanakan adalah sama-sama menggunakan picture and picture. Adapun penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Hikmah Ahmad dari instansi yang sama yaitu dari Universitas Islam Negeri Riau tahun 2009, jurusan Pendidikan Agama Islam yaitu dengan judul ” Penerapan Metode  Pembelajaran Picture And Picture Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa  Kelas III SD N 001 Empat Balai Kecamatan Bangkinang Barat Kabupaten Kampar.”.
Berhasilnya penerapan Metode pembelajaran Picture and Picture pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, diketahui bahwa adanya peningkatan motivasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Dari hasil observasi pada siklus pertama yang menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa pada Siklus I hanya mencapai skor 454 yaitu dalam kriteria rendah, dengan rata-rata motivasi belajar siswa untuk 6 indikator motivasi belajar hanya sebesar (58,21%). Sedangkan hasil pengamatan motivasi belajar pada siklus II terjadi peningkatan, yaitu mencapai skor 621 (dalam kriteria sangat tinggi), dengan rata-rata motivasi belajar siswa untuk indikator motivasi belajar (6 indikator) sebesar 79, 62%.
Sedangkan yang menjadi perbedaan yaitu penelitian yang penulis lakukan bertujuan memperbaiki kemampuan siswa  dalam mempraktekkan shalat fardhu pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. .Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh saudara Hikmah Ahmad bertujuan memperbaiki motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Sains.
C.    Indikator Keberhasilan
1.      Indikator Kinerja
a)      Aktivitas Guru
(1)   Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.
(2)   Guru menyajikan materi sebagai pengantar.
(3)   Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi tentang melaksanakan shalat dengan tertib
(4)   Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis tentang melaksanakan shalat dengan tertib.
(5)   Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut tentang melaksanakan shalat dengan tertib.
(6)   Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/ materi tentang melaksanakan shalat dengan tertib sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
(7)   Kesimpulan/rangkuman tentang materi melaksanakan shalat dengan tertib.

b)     Aktivitas Siswa
(1)   Siswa bersama guru membahas tentang kompetensi yang akan dicapai, Setelah seluruh siswa diamati oleh observer
(2)   Siswa menyimak materi yang diajarkan oleh guru, Setelah seluruh siswa diamati oleh observer
(3)   Siswa memperlajari gambar-gambar yang berkaitan dengan materi, Setelah seluruh siswa diamati oleh observer
(4)   Siswa yang ditunjuk oleh guru secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
(5)   Siswa menjawab alasan / dasar pemikiran dari masing-masing siswa tentang gambar tersebut
(6)   Siswa mulai menanamkan konsep yang akan dicapai yaitu dari alasan /urutan gambar yang dipelajari
(7)   Siswa membuat kesimpulan pelajaran dengan bahasanya sendiri.

2.      Indikator Hasil
Untuk mengetahui pelaksanaan Sholat Fardhu dengan menggunakan media pembelajaran picture and picture, penulis menggunakan tes keterampilan atau tes unjuk kerja. Adapun penilaian kemampuan siswa dalam melaksanakan shalat dengan tertib memuat 11 aspek. Adapun aspek-aspek tersebut yaitu:[25]
1)    Membaca niat shalat, maksudnya ialah menyengaja di dalam hati untuk mengerjakan shalat karena Allah SWT.
2)      Takbiratul ihram. Maksudnya ialah membaca lafal ﺍﻠﻠﻪ ﺃﻜﺑﺮ
Artinya Allah maha besar.
3)    Membaca doa iftitah
4)    Berdiri Bersedekap, yaitu tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri dan terletak diantara dada dan perut dan membaca surat Al-Fatihah
5)    Membaca surah pendek (Al-Kausar/An-Nasr/Al-Asr)
6)    Ruku’, yaitu gerakan membungkukkan badan, punggunan sejajar lurus dengan kepala, kedua tangan memegang lutut mata memandang ketempat sujud dengan membaca bacaan rukuk
7)    Membaca bacaan I’tidal, yaitu gerakan bangun dari ruku’, posisi badan tegak lurus menghadap kiblat, kedua tangan lurus disisi badan
8)    Membaca bacaan sujud , yaitu ketika gerakan merunduk sampai kepala menempelkan ketempar sujud, kedua tangan disamping kiri dan kanan badan, adapun anggota badan yang menempel ditempat sujud yaitu : dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki
9)    Membaca bacaan Duduk diantar dua sujud yaitu ketika kedua tangan diatas paha, kaki kiri ditindih bagian pantat sedangkan ujung kaki kiri menghadap kiblat kemudian sujud kedua
10) Membaca bacaan tasyahud awal dan akhir yaitu ketika gerakan pantat bagian kiri menyentuh lantai, telapak kiri kanan ditegakkan, ujung jari menghadap kiblat, sementara ujung jari kaki kiri lurus menghadap utara. Kedua tangan berada diatas paha
11) Membaca bacaan Salam, yaitu gerakan menoleh kekanan dan kemudian menoleh kekiri sambil mengucapkan salam.
Dalam menentukan kriteria penilaian tentang kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu, maka dilakukan pengelompokkan atas 4 kriteria penilaian yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup tinggi dan rendah, Adapun kriteria persentase tersebut yaitu sebagai berikut:
1)      76% - 100% tergolong sangat tinggi
2)      56% – 75% tergolong tinggi
3)      40% – 55% tergolong cukup tinggi
40% kebawah tergolong rendah”.[26]


[1] Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), hlm. 173
[2] Departemen Agama Ri. Al-Qur’an dan terjemahan : Surah An-Nisa ayat 3
[3] Zakiah darajat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Ilmu Aksara, 2001), hlm. 72
[4] Al-Qur’an dan Terjemahan : Surah Ar-Rum ayat 56
[5] Kepala Sekolah SDN 008 Kampung Melayu Hj. Mithiar Jalil, S.Pd.SD, Wawancara di Sekolah. Tanggal 13 Juli Tahun 2010
[6] Rizki Maulana,  Kamus Praktis Bahasa Indonesia, (Surabaya, Lima Bintang, 1991), hlm. 261
[7] Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 125
[8]  Omar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2004), hlm. 30
[9]  Hamzah, Model Pembelajaran,  (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 79
[10] Cece Wijaya, Pendidikan Remedial Sarana Pengembangan Mutu Sumber Daya Manusia, (Bandung : Remaja Rosda Karya,  2007), hlm. 72
[11] Zainal Muttagin,Pendidikan Agama Islam Fiqih, ( Semarang: PT. Karya Toha Putra, 2007), hlm. 44
[12] Sardiman A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rajawali Pers. 2004), hlm 28
[13] Zainal Muttagin, Op.Cit, hlm. 14
[14]http://organisasi.org/pengertian-shalat-wajib-fardhu-hukum-rukun-syarat-sah-tujuan-dan-kondisi-batal-sholat
[15] Arief S. Sadiman. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. (Jakarta : Rajawali Perss, 2006), hlm. 6
[16] Ibid,
[17]Ibid,
[18] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru, 1989), hlm. 3
[19] R Ibrahim dan Nana Syaodih. Perencanaan Pengajaran. (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), hlm. 114
[20] w.ww. dot. Com. id
[21] Tim Pustaka Yustisia, Panduan Lengkap KTSP,  (Jakarta: Pustaka Yustisia, 2007),  hlm. 165
[22] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Bejar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hlm. 45
[23] Ibid,
[24] http://www.scribd.com/doc/45676778/Macam-Model-Pemb
[25] Moh. Masrun, KTSP PAI, (Jakarta : Erlangga, 2006), hlm. 42
[26] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta. 1998). hlm. 246

Popular Posts

Like us on Facebook