1. M.
Athiyah al-Abrasyi
Ada lima tujuan bagi
pendidikan Islam; (1) untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia, (2)
persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat, (3) persiapan untuk mencari rezeki
dan pemeliharaan segi manfaat, atau yang lebih dikenal dengan tujuan-tujuan
vokasional dan professional, (4) menumbuhkan semangat ilmiyah pada pelajar dan
memuaskan keinginan tahu (curiosity)
dan memungkinkan ia mengakaji ilmu demi ilmu itu sendiri, dan (5) menyiapkan
pelajar dari segi professional, dan teknikal, serta pertukangan supaya dapat
dapat menguasai profesi tertentu agar ia dapat mencari rezeki dalam hidup di
samping memelihara segi kerohanian dan keagamaan. (M. Athiyah al-Abrasyi, Al-Tarbiyah al-Islamiyah wa falsafatuha
(Qahirah: Isa al-Babi al-Halabi, 1969), h. 71).
2. Ali
Ashraf
Ada tujuh tujuan pendidikan
Islam adalah; (1) mengembangkan wawasan spiritual yang semakin mendalam, serta
mengembangkan pemahaman rasional mengenai Islam dalam konteks kehidupan modern.
(2) Membekali anak muda dengan berbagai pengetahuan dan kebajikan, baik
pengetahuan praktis, kekuasaan, kesejahteraan, lingkungan social, dan
pembangunan nasional. (3) Mengembangkan kemampuan diri anak didik untuk
menghargai dan membenarkan superioritas komparatif kebudayaan dan peradaban
islami di atas kebudayaan lain. (4) Memperbaiki dorongan emosi melalui
pengakaman imajinatif. (5) membantu anak berpikir logis dan membimbing
pemikirannya secara bijak. (6) Mengembangkan wawasan relasional dan lingkungan.
(7) Mengembangkan, menghaluskan, dan memperdalam kemampuan berkomunikasi dalam
bahasa tulis dan bahasa lisan. (lihat: Ali Ashraf, Horizon Baru Pendidikan Islam (terj.), (Jakarta: Firdaus, 1989), h.
150).
3. World Conference on Muslim Education Pertama di Mekkah
pada tanggal 31 Maret sampai 8 April 1977
“Education
should aim at balanced growth of the total personality of man through the
training of mans spirit, intellect, the rational self, feeling and bodily senses,
education should there fore cater for the growth of man in all its aspects, spiritual,
intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually
and collectively and motivate all these aspects towards goodness and the
attainment of perfection. The ultimate aim of Muslim education lies in the realization
of complete submission to Allah on the level of individual, the commenity and
humanity at Large”.Artinya: Pendidikan harus ditujukan pada pertumbuhan
yang seimbang dari seluruh kepribadian manusia melalui latihan atas jiwa, akal,
diri rasional, perasaan, dan indra-indra
jasmaniahnya. Oleh karena itu, pendidikan harus mendukung pertumbuhan manusia
dalam semua aspeknya, spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik
secara individual maupun kolektif dan mendorong semua aspek ini menuju kebaikan
dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah
merealisasikan kepasrahan penuh pada Allah
pada tingkat individual, komunitas dan umat. (lihat: Hasan Langgulung, Asas-Asas
Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988, hal. 308).
4. Imam Al-Ghazali
Tujuan umum pendidikan Islam mengarah kepada dua
sasaran. Pertama, kesempurnaan manusia, yang puncaknya adalah taqarrub(mendekatkan
diri) kepada Allah. Kedua, kesempurnaan manusia, yang puncaknya adalah
kebahagiaan dunia dan akhirat.51Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam dalam
pandangan al-Ghazali adalah untuk mencapai dua tujuan tersebut sekaligus.(Lihat:
Fathiyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan Al-Ghazali, terj. Ahmad Hakim
dan Imam Aziz, Jakarta: P3M,1986), hal. 19-20).
5. Abd.
Rahman al-Nahlawy
Tujuan akhir pendidikan Islam
adalah; (1) Memperkenalkan kepada generasi muda akan akidah Islam,
dasar, asal-usul, serta cara melaksanakannya, dengan membiasakan mereka
berhati-hati mematuhi akidah agama, menjalankan serta menghormati syi’ar agama,
(2) Menumbuhkan kesadaran yang betul pada pelajar terhadap agama, termasuk
prinsip dan dasar akhlak mulia. (3) Menanamkan keimanan kepada Allah
pencipta alam, malaikat, rasul, kitab, dan hari akhirat berdasarkan paham
kesadaran dan perasaan. (4) Menumbuhkan miat generasi muda untuk
menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan, serta mengikuti
hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan. (5) Menanamkan rasa cinta dan
penghargaan kepada al-Quran, serta membaca, memahami, dan mengamalkan ajarannya
dengan baik. (6) Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan
Islam, serta pahlawannya dan mengikuti jejak mereka. (7) Menumbuhkan
rasa rela, optimisme, percaya diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban,
tolong menolong atas kebaikan dan taqwa, kasih sayang, cinta kebaikan, sabar,
berjuang untuk kebaikan, memegang teguh pada prinsip, berkorban untuk agama,
tanah air, dan siap untuk membelanya. (8) Mendidik naluri, motivasi,
keinginan generasi muda dan menguatkannya dengan akidah dan nilai, dan membiaskan
mereka mengarahkan motivasinya, mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik.
Bengitu juga mengajar mereka berpegang dengan adab sopan-santun pada hubungan
dan pergaulan mereka baik di rumah maupun sekolah, atau di mana saja. (9) Menanamkan iman
yang kuat kepada Allah pada diri mereka, perasaan keagamaan, semangat keagaaan,
dan akhlak pada diri mereka, serta menyuburkan hati mereka dengan rasa cinta,
zikir, takwa, dan takut kepada Allah. (10) Membersihkan hati mereka dari
rasa dengki, hasad, irihati, benci, kekasaran, kezaliman, egoisme, tipuan,
khianat, nifak, ragu, perpecahan, dan perselisihan. (lihat: Lihat Hasan Langgulung, Manusia dan
Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Al-Husna
Zikra, 1995), h. 64-65.)
6. Al-Buthi
(1961 : 102)
Ada tujuh macam tujuan umum
pendidikan Islam, yaitu: (1) Mencapai keridhaan Allah, menjauhi murka
dan siksaan-Nya dan melaksanakan pengabdian yang tulus ikhlas kepada-Nya.
Tujuan ini dianggap induk dari segala tujuan pendidikan Islam. (2) Mengangkat
tarap akhlak dalam masyarakat
berdasarkan pada agama yang diturunkan untuk membimbing masyarakat ke arah yang
diridhai oleh Nya. (3) Memupuk rasa cinta tanah air pada diri manusia
berdasar pada agama yang diturunkan untuk membimbing masyarakat ke arah yang
diridhai-Nya. (4) Memupuk rasa cinta tanah air pada diri manusia
berdasar pada ajaran agama dan ajaran-ajaran yang dibawanya, begitu juga
mengajar manusia kepada nilai-nilai dan akhlak yang mulia. (5) Mewujudkan
ketentraman di dalam jiwa dan akidah yang dalam, penyerahan dan kepatuhan yang
ikhlas kepada Allah SWT. (6) Memelihara bahasa dan kesusastraan Arab
sebagai bahasa Al-Quran, dan sebagai wadah dan unsur kebudayaan Islam yang
paling menonjol, menyebarkan kesadaran Islam yang sebenarnya dan menunjukkan
hakikat agama atas keberhasilan dan kecemerlangannya, dan (7) Meneguhkan
perpaduan tanah air dan menyatukan barisan melalui usaha menghilangkan
perselisihan, bergabung dan kerja sama dalam rangka prinsip-prinsip dan
kepercayaan-kepercayaan Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah.
(lihat: Hasan
Langgulung, Manusia dan Pendidikan, h. 62-63).
7. Syed-Sajjad
Husein dan Syed Ali Ashraf
Tujuan pendidikan Islam dalam
al-Quran dapat dibagi menjadi empat bagian: Pertama, mengenalkan manusia
akan peranannya di antara semua makhluk dan tanggungjawab pribadinya dalam
kehidupan ini. Kedua, mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan
tanggungjawabnya dalam tata hidup bermasyarakat. Ketiga, mengenalkan
manusia akan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah ciptaannya
serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat dari alam
tersebut. Keempat, mengenalkan manusia akan pencipta alam ini dan
memerintahkan beribadah kepada-Nya. (Lihat: Muhammad Fadhil Al-Jamali, Filsafat
Pendidikan dalam Al-Quran, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1986), h. 3).
8. Umar
Muhammad al-Toumi al-Syaibani
Tujuan khas pendidikan Islam
itu meliputi: (1) Memperkenalkan kepada generasi muda akan aqidah-aqidah Islam,
dasar-dasarnya, asal-usul ibadah, dan cara-cara melaksanakannya dengan betul
dengan membiaskan mereka berhati-hati
mematuhi akidah-akidah agama dan menjalankan serta menghormati syi’ar-syi’ar
agama. (2) Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajar terhadap agama,
termasuk prinsip-prinsip dan dasar-dasar akhlak yang mulia. Begitu juga
menyadarkannya akan bid’ah-bid’ah, khurafat-khurafat, kepalsuan-kepalsuan dan
kebiasaan-kebiasaan usang yang melekat kepada Islam itu tanpa disadari, padahal
Islam itu bersih. (3) Menanamkan keimanan kepada Allah SWT. pencipta alam,
kepada malaikat, Rasul-rasul, kitab-kitab, dan hari akhirat berdasarkan paham
kesadaran dan kehalusan perasaan. (4) Menumbuhkan minat generasi muda untuk
menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan, dan untuk mengikuti
hukum-hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan. (5) Menanamkan rasa cinta dan
penghargaan kepada Al-Quran, berhubung dengannya, membacanya dengan baik,
memahaminya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya. (6) Menumbuhkan rasa bangga
terhadap sejarah dan kebudayaan Islam dan pahlawan-pahlawannya, serta mengikuti
jejek mereka. (7) Menumbuhkan rasa rela, optimisme, kepercayaan diri,
tanggungjawab, menghargai kewajiban, tolong-menolong atas kebaikan dan takwa,
kasih sayang, cinta kebaikan, sabar, perjuangan untuk kebaikan, memegang teguh
pada prinsip, berkorban untuk agama dan tanah air serta bersiap membelanya. (8)
Mendidik naluri, motivasi, keinginan generasi muda, membentengiya dengan akidah
dan nilai-nilai, membiasakan mereka menahan motivasi-motivasinya, mengatur
emosi dan membimbingnya dengan baik. Begitu juga mengajar mereka berpegang pada
adab kesopanan dalam hubungan dan pergaulan mereka, baik di rumah atau sekolah,
di jalanan atau di lain bidang dan lingkungan. (9) Menanamkan iman yang kuat
kepada Allah SWT. dalam diri mereka, menguatkan perasaan agama dan dorongan
agama serta akhlak dalam diri mereka, menyuburkan hati dengan kecintaan, zikir,
takwa, dan takut kepada Allah. (10) Membersihkan hati dari dengki, hasat, iri
hati, benci, kekasaran, kezaliman, egoisme, tipuan, khianat, nifak, perpecahan,
dan perselisihan. (lihat: Umar Muhammad al-Toumi al-Syaibani, Filsafat Pendidikan
Islam terjemahan Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 422-424).
9. Ibn
Khaldun
Tujuan pendidikan Islam
sebagai berikut: (1) Mempersiapkan seseorang dari segi keagamaan, yaitu
mengajarkan syi’ar-syi’ar agama menurut
Al-Quran dan sunnah sebab dengan jalan itu potensi iman itu memperkuat,
sebagaimana halnya dengan potensi-potensi lain yang jika mendarah daging, maka
ia seakan-akan menjadi fitrah. (2) Mempersiapkan seseorang dari segi akhlak.
(3) Menyiap seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial. (4) Menyiapkan
seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan. Dikatakannya, bahwa mencari dan
menegakkan hidupnya untuk mencari pekerjaan, sebagaimana ditegaskan pentingnya
pekerjaan sepanjang umur manusia, sedangkan pengajaran atau pendidikan
dianggapnya termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu. (5) Menyiapkan
seseorang dari segi pemikiran sebab dengan pemikiranlah seseorang dapat
memegang berbagai pekeraan dan pertukaran atau ketrampilan tertentu. (6) Menyiapkan
seseorang dari segi kesenian. Kesenian di sini termasuk musik, sya’ir, seni
bina, dan lain-lain. (Lihat: Moh. Amin, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam,
(Pasuruan: GBI Anggota Ikapi), 1992), h. 27-28)
10. Jusuf Amir
Faisal
Tujuan pendidikan Islam itu
dapat dipecah menjadi tujuan-tujuan berikut: (1) Membentuk manusia muslim yang
dapat melaksanakan ibadah mahdhah. (2) Membentuk manusia muslim yang di samping
dapat melaksanakan ibadah mahdhah dapat juga melaksanakan ibadah muamalah dalam
kedudukannya sebagai orang perorang atau sebagai anggota masyarakat dalam
lingkungan tertentu. (3) Membentuk warga negara yang bertanggungjawab kepada
masyarakat dan bangsanya dalam rangka bertanggungjawab kepada Allah
Penciptanya. (5) Membentuk dan mengembangkan tenaga profesional yang siap dan
terampil atau tenaga setengah terampil untuk memungkinkan memasuki tekno struktur masyarakatnya. (6) Mengembangkan
tenaga ahli di bidang ilmu (agama dan ilmu-ilmu islami lainnya).(Lihat: Jusuf
Amir Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Gema Insani
Press, 1995), h. 96).
- 01.39
- 0 Comments





