Peningkatan Kemampuan Siswa DalamPraktek Shalat Fardhu Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Picture And Picture
00.24
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Masalah
Dalam
proses pendidikan guru merupakan salah satu faktor yang menentukan terhadap
keberhasilan siswanya. Dengan demikian
guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tidak hanya dituntut agar mampu
menyampaikan materi pelajaran dan menguasai bahan pelajaran tetapi harus dapat
mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar. Guru hendaknya selalu
berusaha memberikan bimbingan dan selalu mendorong semangat belajar anak didik,
mengorganisasikan kegiatan belajar sebaik mungkin dan menjadi media informasi
yang sangat dibutuhkan siswa dibidang pengetahuan, keterampilan dan perilaku
atau sikap.[1] Termasuk di dalamnya meningkatkan kemampuan siswa
dalam mempraktekkan shalat fardhu pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Keterampilan mempraktekkan
shalat fardhu sangat penting bagi manusia terutama murid sebagai generasi
penerus, karena untuk menjadi hamba Allah SWT dalam artinya sebenarnya
dibutuhkan cara bagaimana murid agar dekat dengan Allah SWT. Bagaimana murid
merasa dicintai oleh Allah SWT, diantara cara untuk mewujudkan hal tersebut
adalah melaksanakan shalat fardhu dengan sempurna.
|
¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. n?tã úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ
Artinya : “Sesungguhnya shalat itu
adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Q.S.
An-Nisa: 3)[2]
Tujuan
Pendidikan Islam yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh
ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam al-Qur’an disebut
“Muttaqin”. Karena itu pendidikan Islam berarti juga pembentukan manusia yang
bertaqwa. Ini sesuai benar dengan pendidikan nasional yang dituangkan dalam
tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia pancasila yang bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.[3]
Mengingat pentingnya
pendidikan agama Islam bagi anak juga dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an yaitu :

Artinya: “Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya
kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit;
maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).”(
Q.S. Ar-Rum: 56)[4]
Untuk mewujudkan hal demikian, maka
Pendidikan Agama Islam di sekolah harus benar-benar dilaksanakan dengan cara
yang baik agar dapat diterima dan diaktualisasikan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan apa yang dicita-citakan
dan yang diharapkan.
Pada jenjang kelas III SD Negeri 008
Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam
terdapat beberapa materi yang harus dikuasai oleh peserta didik diantaranya
yaitu mempraktekkan shalat fardhu, dari materi tersebut siswa diharapkan mampu
menguasainya dengan proses pembelajaran yang akurat. Dalam
kegiatan belajar tersebut keterlibatan siswa dan guru sangat di harapkan. Guru
dalam hal ini harus menguasai teknik dan strategi metode mengajar.
Di kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan
Sukajadi ini murid bervariasi dalam dalam mempraktekkan shalat fardhu, ada yang
bisa namun masih kurang sempurna dan adapula yang tidak bisa sama sekali mempraktekkan
shalat fardhu. Dalam hal ini guru sudah berusaha dengan maksimal, bagaimana
supaya sebagian anak tidak bisa melaksanakan shalat fardhu sebagaimana temannya
yang lain.
Dari materi yang telah disebutkan diatas, menurut
pengamatan penulis guru telah mengajarkan materi tersebut kepada siswa agar
mereka mampu melaksanakan shalat dengan benar, dan guru telah melakukan
beberapa metode untuk pembelajaran tersebut antara lain metode ceramah, tanya
jawab, driil, dan lainya. Akan tetapi kenyataannya kemampuan siswa dalam mempraktekkan
shalat fardhu masih rendah. Hal ini ditandai dengan hasil nilai yang dapat
siswa kelas III baru mencapai 6,5, dikarenakan siswa tidak semangat dalam
belajar dan kurang memperhatikan penjelasan guru, dikarenakan siswa tidak dapat
belajar dengan baik sedangkan (KKM) yang harus dicapai pada kelas tersebut
adalah 70. [5]
Berdasarkan pengalaman penulis selama bertugas di SDN
008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi menemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1.
Daya serap
siswa terhadap materi pengertian sholat fardhu masih kurang baik secara
individu maupun kelompok.
2.
Siswa
belum mampu melafalkan bacaan sholat fardhu dengan baik dan benar.
3.
Siswa
belum tertampil mempraktekkan sholat fardhu dengan baik dan benar.
Berdasarkan masalah-masalah di
atas, dapat dianalisis bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam mempraktekkan
shalat fardhu. Pada dasarnya banyak upaya yang dapat dilakukan guru untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu diantaranya
dengan menggunakan media pembelajaran Picture And Picture yaitu suatu metode pembelajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan
/ diurutkan menjadi urutan logis. Dengan penggunaan media ini diharapkan guru
lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa, melatih berpikir logis dan
sistematis.
Keunggulan dari media
pembelajaran Picture and Picture yaitu:
- Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa
- Melatih berpikir logis dan sistematis
Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tindakan dengan judul ”Meningkatkan Kemampuan
Siswa Dalam Mempraktekkan Shalat Fardhu Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Picture And Picture (Gambar dan Gambar)
Pada Siswa Kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi”.
B. Definisi
Istilah
1.
Kemampuan
berasal dari kata mampu yaitu kuasa melakukan sesuatu, sanggup, dapat, berada,
kaya[6]. Kemampuan yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah kesanggupan siswa dalam mempraktekkan
shalat fardhu.
2.
Media
Pembelajaran Picture and Picture
adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan
dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis.[7] Dengan penggunaan Media pembelajaran ini diharapkan guru lebih
mengetahui kemampuan masing-masing siswa, melatih berpikir logis dan sistematis.
C. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar
belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya adalah “Apakah Melalui Penggunaan Media Pembelajaran Picture And Picture
dapat Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mempraktekkan Shalat Fardhu Siswa
Kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi?”
D. Tujuan
Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan media pembelajaran Picture and picture (Gambar dan Gambar) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat
fardhu pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas III SD Negeri 008
Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi. .
2.Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
- Bagi siswa
1) Untuk menumbuhkan kesadaran, bahwa kemampuan melaksanakan shalat fardhu
sangatlah penting, khususnya pada pembelajaran dan umumnya dalam kehidupan
sehari-hari.
2) Untuk meningkatkan kemampuan melaksanakan shalat fardhu siswa kelas III
SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi.
- Bagi guru
1) Dengan adanya penelitian ini menjadi pedoman bagi guru untuk memilih
metode yang tepat dalam menampilkan model pembelajaran.
2) Penelitian ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pengambilan
tindakan perbaikan selanjutnya.
- Bagi Sekolah :
1) Sekolah mengetahui behwa dalam rangka meningkatkan kemampuan
melaksanakan shalat fardhu, model pembelajaran iPicture and Picture merupakan langkah tepat untuk diterapkan.
- Bagi Peneliti
1) Penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk memperdalam dan
memperluas ilmu pengetahuan penulis.
2) Mendapatkan informasi mengenai pengaruh penggunaan Media
Pembelajaran Picture And Picture
terhadap kemampuan mempraktekkan shalat fardhu
siswa kelas III SD Negeri 008 Kampung Melayu Kecamatan Sukajadi
BAB
II
A. Kerangka
Teoritis
1.
Pengertian Keterampilan
Sholat Fardhu
Bukti bahwa
seseorang telah belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang
tersebut, misalnya tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi
mengerti. Tingkah laku memiliki unsur subjektif dan unsur motoris. Unsur
subjektif adalah unsur rohaniah sedangkan unsur motoris adalah unsur jasmaniah.
Sebab seseorang sedang berfikir dapat dilihat dari raut mukanya, sikapnya dalam
rohaninya tidak bisa kita lihat.
|
2.
Jenis-jenis keterampilan
dalam keterampilan proses
Adapun berbagai
keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut
terdiri dari keterampila-keterampilan dasar (basic
skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrited
skills).
Katerampilan-keterampilan
dasar terdiri dari enam keterampilan, yaknik: mengobservasi, mengklasifikasi,
memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan
keterampilan-keterampilan terintegtasi terdiri dari : mengidentifikasi
variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan
hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis
penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional,
merancang penelitian, dan melaksanakan eksprimen.[10]
3.
Pengertian Shalat
Shalat
adalah kewajiban setiap muslim, yang wajib dikerjakan. Dalam keadaan apapun
shalat tetap wajib dilaksanakan kerena setiap orang yang menganut Agama Islam
diwajibkan mempelajari dan mengamalkannya. Shalat adalah perintah Allah yang
telah disyariatkan kepada Nabi Muhammad SAW, serta seluruh umat Nabi SAW yang
sudah baligh dan berakal, serta meninggalkannya adalah dosa. Adapun tujuan
disyariatkannya shalat selain bernilai ibadah, shalat juga dapat membuat
ketenangan jiwa, dan sebagai latihan yang dapat dilakukan seseorang agar selalu
sehat serta dapat membentuk pribadi muslim yang disiplin.
Setiap
orang Islam mempercayai bahwa shalat adalah syariat Islam yang wajib
dilaksanakan dan berdosa jika ditinggalkan. Shalat wajib juga disebut shalat
fardu merupakan shalat yang harus dikerjakan oleh kaum muslimin, bila
dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan akan mendapat dosa.[11]
Yang termasuk kedalam shalat wajib adalah shalat lima waktu (subuh, dzuhur,
asar, magrib dan isa’).
¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. n?tã úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ
Artinya :
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas
orang-orang yang beriman”
Sehubungan
dengan hal tersebut maka pendidikan merupakan suatu proses belajar yang harus
dilalui oleh seseorang agar terjadi perubahan tingkah laku. Sebagaimana dikemukakan oleh Sardiman bahwa
pada intinya tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan
dan penanaman sikap mental/nilai-nilai.[12]
Sedangkan menurut Zainal
muttaqin bahwa tujuan lembaga pendidikan adalah :
Menyiapkan peserta didik yang
beriman, bertakwa kreatif dan inovatif serta berwawasan keilmuan dan juga
dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi. Usaha menyiapkan peserta didik dalam mencapai tujuan tersebut
diperlukan seperangkat pembelajaran yang diberikan kepada siswa termasuk di dalamnya
mata pelajaran agama.[13]
Shalat
menurut bahasa artinya, adalah berdo’a. sedangkan menurut syara’ berarti: menghadapkan
jiwa dan raga kehadirat Allah (sebagai bentuk pengabdian) dalam bentuk
perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, hukum
sholat fardhu lima kali sehari adalah wajib bagi semua orang yang telah dewasa
atau aqil baligh serta normal tidak gila. Tujuan shalat adalah untuk
mencegah perbuatan keji dan munkar.
Syarat sah
pelaksanaan sholat adalah sebagai berikut ini :
1. Masuk waktu sholat
2. Menghadap ke kiblat
3. Suci dari najis baik hadas kecil maupun besar
Sesuai dengan
syarat-syarat yang telah ditentukan, adapun syarat-syarat tersebut adalah:
a.
Gerakan shalat fardhu
Shalat yang dikerjakan
mengikuti contoh dan petunjuk dari Allah SWT melalui utusannya yakni Nabi
Muhammad SAW. Untuk dalam mengerjakan shalat harus sungguh-sungguh mengikuti
sebagaimana yang diajarkan rasul. ”shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku
shalat”. Berikut dapat dijelaskan tata cara pelaksanan shalat.
1) Berdiri tegak menghadap kiblat
kedua tangan lurus disisi badan kemudian mata melihat kearah kiblat.
2) Tabiratuliharam yakni gerakan mengangkat tangan ujung jari sejajar
dengan telinga, kedua siku direnggangkan sambil mengucap “Allahu Akbar”
3) Bersedekap, yaitu tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri dan
terletak diantara dada dan perut.
4) Ruku’, yaitu gerakan membungkukkan badan, punggunan sejajar lurus
dengan kepala, kedua tangan memegang lutut mata memandang ketempat sujud.
5) I’tidal, yaitu gerakan bangun dari ruku’, posisi badan tegak lurus
menghadap kiblat, kedua tangan lurus disisi badan
6) Sujud, yaitu gerakan merunduk sampai kepala menempelkan ketempat sujud,
kedua tangan disamping kiri dan kanan badan, adapun anggota badan yang menempel
ditempat sujud yaitu : dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan
jari-jari kaki
7) Duduk diantara dua sujud yaitu kedua tangan diatas paha, kaki kiri ditindih
bagian pantat sedangkan ujung kaki kiri menghadap kiblat kemudian sujud kedua
8) Tahiyat awal posisi duduk sama seperti posisi pada susuk diantara dua
sujud
9) Tahiyat akhir yaitu gerakan pantat bagian kiri menyentuh lantai,
telapak kiri kanan ditegakkan, ujung jari menghadap kiblat, sementara ujung
jari kaki kiri lurus menghadap utara. Kedua tangan berada diatas paha
10) Salam, yaitu gerakan menoleh kekanan dan kemudian menoleh kekiri sambil
mengucapkan salam.
4.
Media Pembelajaran Picture And Picture
a. Pengertian Media
Media adalah
bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media
hendaknya dapat dilihat, didengar dan dibaca.[15]
Pendapat ini diperkuat oleh pendapat yang dikemukakan oleh Azhar Arsyad secara
sederhana media diartikan sebagai alat yang menyampaikan atau pesan-pesan
pembelajaran.[16]
Lebih lanjut media adalah berbagai
jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya belajar.
Sementara itu Briggs juga dalam Arief S. Sadiman dkk bahwa media adalah segala
alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya.[17]
Berdasarkan beberapa pendapat
tersebut, jelas bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses
belajar terjadi.
b. Jenis-Jenis Media
Dalam proses pengajaran ada beberapa
jenis media pengajaran yang biasa digunakan. Pertama, media grafis seperti
gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan lain-lain.[18]
Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai
ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model
seperti model padat (solid model),
model penampang, model susun, model kerja dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi
seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan lain-lain. Keempat
penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.
Hal senada juga dinyatakan oleh Brets
dalam R. Ibrahim membuat klasifikasi media pengajaran berdasarkan adanya tiga
ciri, yaitu : suara (audio), bentuk (visual) dan gerak (motion). Atas dasar ini Brets
mengemukakan beberapa kelompok media, sebagai berikut :
1)
Media audio-motion-visual, yakni media yang
mempunyai suara, ada gerakan dan bentuk objektif dapat dilihat. Media semacam
ini paling lengkap. Jenis media yang termasuk kelompok ini adalah televisi,
video tape dan film bergerak.
2)
Media audio
still visual, yakni media yang mempunyai suara, objeknya dapat dilihat, namun
tidak ada gerakan, seperti film strip bersuara, slide bersuara dan rekaman
televisi dengan gambar tak bergerak.
3)
Media audio
semi motion, mempunyai suara dan gerakan, namun tidak dapat menampilkan suatu
gerakan secara utuh. Contoh papan tulis jarak jauh atau tele blackboard.
4)
Media motion
visual, yani media yang mempunyai gambar objek bergerak, tapi tanpa
mengeluarkan suara, seperti film bisu yang bergerak.
5)
Media still
visual, yakni ada objek namun tidak ada gerakan seperti film strip dan slide
tanpa suara.
6)
Media audio,
hanya menggunakan suara, seperti radio, telepon, dan audio tape.
7)
Media
cetak yang tampil dalam bentuk bahan-bahan tercetak/ tertulis seperti buku,
modul dan pamflet.[19]
c.
Pengertian Media Picture A Picture
Media Picture and
Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan
gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis.[20] Dengan penggunaan metode ini diharapkan guru lebih mengetahui
kemampuan masing-masing siswa, melatih berpikir logis dan sistematis.
Adapun
langkah-langkah dalam metode pembelajaran Picture and Picture dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan
kompetensi yang ingin dicapai.
2)
Menyajikan materi sebagai pengantar.
3)
Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar
yang berkaitan dengan materi.
4)
Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian
memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5)
Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan
gambar tersebut.
6)
Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai
menanamkan konsep/ materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Berdasarkan
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Picture and
Picture adalah merupakan metode
mengajar dengan menggunakan gambar. Dengan demikian metode pembelajaran Picture
and Picture diharapkan dapat
menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran kemudian dapat mendorong
minat siswa untuk lebih memperhatikan pelajaran. Selanjutnya metode
pembelajaran Picture and Picture
juga merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaraan yang memusatkan
pembelajaran pada keikutsertaan siswa secara aktif karena dalam pembelajaran
ini siswa dituntut untuk melakukan kegiatan sesuai dengan instruksi guru,
disamping guru
Dalam proses pembelajaran ada
beberapa langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam penggunaan media gambar
yaitu:
a.
Objektifitas
Unsur subjektifitas enzim dalam
memilih media pengajaran harus dihindarkan. Artinya guru tidak boleh memilih
media atas dasar kesenangan pribadi, media pengajaran menunjukkan keaktifan dan
efesien yang tinggi maka guru jangan bosan menggunakannya.
b.
Program
pengajaran
Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak
didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku baik isinya atau strukturnya.
c.
Kualitas
teknis
d.
Situasi
dan kondisi
e.
Keefektifan
dan efesien penggunaan media
Keefektifan berkenaan dengan hasil belajar yang dicapai,
sedangkan efisiensi berkenaan dengan proses pencapain hasil belajar.[22]
Ada beberapa
keunggulan dalam model pembelajaran Picture
And Picture, yaitu sebagai berikut :
1)
Guru lebih
mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
Sedangkan kelemahan dari model
pembelajaran Picture and Picture yaitu
sebagai berikut:
1)
Memakan
banyak waktu
2)
Banyak
siswa yang pasif.[24]
B. Penelitian
Yang Relevan
Setelah penulis membaca dan mempelajari beberapa karya
ilmiah sebelumnya, unsur relevannya dengan penelitian yang penulis laksanakan
adalah sama-sama menggunakan picture and
picture. Adapun penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh
Hikmah Ahmad dari instansi yang sama yaitu dari Universitas Islam Negeri Riau
tahun 2009, jurusan Pendidikan Agama Islam yaitu dengan judul ” Penerapan Metode Pembelajaran Picture And Picture Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas III
SD N 001 Empat Balai Kecamatan Bangkinang Barat Kabupaten Kampar.”.
Berhasilnya penerapan
Metode
pembelajaran Picture and Picture pada
mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, diketahui bahwa adanya peningkatan
motivasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Dari hasil observasi pada
siklus pertama yang menunjukkan bahwa tingkat motivasi belajar siswa pada
Siklus I hanya mencapai skor 454 yaitu dalam kriteria rendah, dengan rata-rata
motivasi belajar siswa untuk 6 indikator motivasi belajar hanya sebesar
(58,21%). Sedangkan hasil pengamatan motivasi belajar pada siklus II terjadi
peningkatan, yaitu mencapai skor 621 (dalam kriteria sangat tinggi), dengan
rata-rata motivasi belajar siswa untuk indikator motivasi belajar (6 indikator)
sebesar 79, 62%.
Sedangkan yang menjadi perbedaan yaitu penelitian yang
penulis lakukan bertujuan memperbaiki kemampuan siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu pada mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam. .Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
saudara Hikmah Ahmad bertujuan memperbaiki motivasi belajar siswa pada mata
pelajaran Sains.
C. Indikator
Keberhasilan
1.
Indikator Kinerja
a)
Aktivitas Guru
(1) Guru menyampaikan
kompetensi yang akan dicapai.
(2) Guru menyajikan materi
sebagai pengantar.
(3) Guru
menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi tentang
melaksanakan shalat dengan tertib
(4) Guru menunjuk/memanggil
siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang
logis tentang melaksanakan shalat dengan tertib.
(5) Guru menanyakan alasan/dasar
pemikiran urutan gambar tersebut tentang melaksanakan shalat dengan tertib.
(6) Dari alasan/urutan gambar
tersebut guru memulai menanamkan konsep/ materi tentang melaksanakan shalat
dengan tertib sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
(7) Kesimpulan/rangkuman
tentang materi melaksanakan shalat dengan tertib.
b)
Aktivitas
Siswa
(1) Siswa bersama guru membahas tentang kompetensi yang akan dicapai,
Setelah seluruh siswa diamati oleh observer
(2) Siswa menyimak materi yang diajarkan oleh guru, Setelah
seluruh siswa diamati oleh observer
(3) Siswa memperlajari gambar-gambar yang berkaitan dengan materi, Setelah
seluruh siswa diamati oleh observer
(4) Siswa yang ditunjuk oleh guru secara bergantian memasang/mengurutkan
gambar-gambar menjadi urutan yang logis
(5) Siswa menjawab alasan / dasar pemikiran dari masing-masing siswa
tentang gambar tersebut
(6) Siswa mulai menanamkan konsep yang akan dicapai yaitu dari alasan /urutan
gambar yang dipelajari
(7) Siswa membuat kesimpulan pelajaran dengan bahasanya sendiri.
2.
Indikator
Hasil
Untuk mengetahui pelaksanaan
Sholat Fardhu dengan menggunakan media pembelajaran picture
and picture, penulis menggunakan tes keterampilan atau tes unjuk kerja. Adapun
penilaian kemampuan siswa dalam melaksanakan shalat dengan tertib memuat 11
aspek. Adapun aspek-aspek tersebut yaitu:[25]
1) Membaca niat shalat, maksudnya ialah menyengaja di dalam hati untuk
mengerjakan shalat karena Allah SWT.
2)
Takbiratul ihram.
Maksudnya ialah membaca lafal ﺍﻠﻠﻪ ﺃﻜﺑﺮ
Artinya Allah maha besar.
3) Membaca doa iftitah
4) Berdiri Bersedekap, yaitu tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri
dan terletak diantara dada dan perut dan membaca surat Al-Fatihah
5) Membaca surah pendek (Al-Kausar/An-Nasr/Al-Asr)
6) Ruku’, yaitu gerakan membungkukkan badan, punggunan sejajar lurus
dengan kepala, kedua tangan memegang lutut mata memandang ketempat sujud dengan
membaca bacaan rukuk
7) Membaca bacaan I’tidal, yaitu gerakan bangun dari ruku’, posisi badan
tegak lurus menghadap kiblat, kedua tangan lurus disisi badan
8) Membaca bacaan sujud , yaitu ketika gerakan merunduk sampai kepala
menempelkan ketempar sujud, kedua tangan disamping kiri dan kanan badan, adapun
anggota badan yang menempel ditempat sujud yaitu : dahi, hidung, kedua telapak tangan,
kedua lutut, dan jari-jari kaki
9) Membaca bacaan Duduk diantar dua sujud yaitu ketika kedua tangan diatas
paha, kaki kiri ditindih bagian pantat sedangkan ujung kaki kiri menghadap
kiblat kemudian sujud kedua
10) Membaca bacaan tasyahud
awal dan akhir yaitu ketika gerakan pantat bagian kiri menyentuh lantai,
telapak kiri kanan ditegakkan, ujung jari menghadap kiblat, sementara ujung
jari kaki kiri lurus menghadap utara. Kedua tangan berada diatas paha
11) Membaca bacaan Salam,
yaitu gerakan menoleh kekanan dan kemudian menoleh kekiri sambil mengucapkan
salam.
Dalam menentukan kriteria penilaian tentang kemampuan
siswa dalam mempraktekkan shalat fardhu, maka dilakukan pengelompokkan atas 4
kriteria penilaian yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup tinggi dan rendah, Adapun
kriteria persentase tersebut yaitu sebagai berikut:
1)
76% - 100% tergolong sangat
tinggi
2)
56% – 75% tergolong tinggi
3)
40% – 55% tergolong cukup
tinggi
40% kebawah
tergolong rendah”.[26]
[1] Ramayulis, Metodologi
Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), hlm. 173
[2] Departemen Agama Ri. Al-Qur’an
dan terjemahan : Surah An-Nisa ayat 3
[3] Zakiah darajat, Metodologi
Pengajaran Agama Islam, (Jakarta
: Ilmu Aksara, 2001), hlm. 72
[4] Al-Qur’an dan Terjemahan :
Surah Ar-Rum ayat 56
[5] Kepala Sekolah SDN 008 Kampung Melayu Hj. Mithiar Jalil, S.Pd.SD, Wawancara di Sekolah. Tanggal 13 Juli Tahun
2010
[6] Rizki Maulana, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, (Surabaya,
Lima Bintang, 1991), hlm. 261
[7] Agus
Suprijono, Cooperative Learning Teori
dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2009), hlm. 125
[8] Omar Hamalik, Proses
Belajar Mengajar, (Jakarta
: Bumi Aksara, 2004), hlm. 30
[9] Hamzah, Model
Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 79
[10] Cece Wijaya, Pendidikan
Remedial Sarana Pengembangan Mutu Sumber Daya Manusia, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2007), hlm. 72
[13] Zainal Muttagin, Op.Cit, hlm.
14
[14]http://organisasi.org/pengertian-shalat-wajib-fardhu-hukum-rukun-syarat-sah-tujuan-dan-kondisi-batal-sholat
[15] Arief S. Sadiman. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan,
dan Pemanfaatannya. (Jakarta : Rajawali Perss, 2006), hlm. 6
[16] Ibid,
[17]Ibid,
[18] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru, 1989), hlm. 3
[19] R Ibrahim dan Nana Syaodih.
Perencanaan Pengajaran. (Jakarta : Rineka Cipta, 2003),
hlm. 114
[20] w.ww. dot. Com. id
[21] Tim Pustaka
Yustisia, Panduan Lengkap KTSP, (Jakarta:
Pustaka Yustisia, 2007), hlm. 165
[22] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Bejar Mengajar, Rineka
Cipta, Jakarta,
2002, hlm. 45
[23] Ibid,
[24] http://www.scribd.com/doc/45676778/Macam-Model-Pemb
[25] Moh. Masrun, KTSP PAI, (Jakarta : Erlangga, 2006),
hlm. 42
[26] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta. 1998). hlm. 246



0 komentar